KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mempertimbangkan
reshuffle kabinet yang lebih luas setelah pemecatan Jaksa Agung Pam Bondi pekan ini. Langkah ini muncul seiring meningkatnya frustrasi Trump terhadap dampak politik dari perang dengan Iran, menurut lima sumber yang mengetahui diskusi internal Gedung Putih dilansir dari
Reuters Sabtu (4/4/2026).
Baca Juga: Lima Menteri Keuangan Uni Eropa Dorong Pajak Windfall untuk Perusahaan Energi Potensi perubahan kabinet ini dimaksudkan untuk memberikan “reset” bagi administrasi Trump di tengah periode yang penuh tekanan: perang yang telah berlangsung lima minggu meningkatkan harga bahan bakar, menurunkan tingkat persetujuan publik terhadap Trump, dan menimbulkan kekhawatiran bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November. Beberapa pejabat Gedung Putih menyebut pidato Trump kepada publik pada Rabu lalu gagal menyampaikan rasa kendali dan kepercayaan yang diharapkan, sehingga muncul kesan bahwa perubahan dalam penyampaian pesan atau personel diperlukan. Beberapa nama yang disebut berpotensi terkena
reshuffle termasuk Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick, setelah sebelumnya Trump memecat Bondi dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem.
Baca Juga: Hakim AS Hentikan Kebijakan Donald Trump Soal Data Ras Penerimaan Mahasiswa Trump disebut kecewa dengan Gabbard dan sempat meminta pendapat sekutu terkait penggantinya. Sementara itu, beberapa sekutu Trump mendorong penggantian Lutnick, yang pernah mendapat sorotan karena hubungan dengan Jeffrey Epstein. Lutnick membantah keterlibatan signifikan dengan Epstein dan menyebut pertemuan di pulau pribadi Epstein terjadi kebetulan. Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle menyatakan, Trump tetap “memiliki kepercayaan penuh” kepada Gabbard dan Lutnick. Ia menekankan keduanya telah berperan dalam pencapaian kemenangan signifikan bagi Amerika, termasuk peran Gabbard dalam mengakhiri rezim narkoterror Maduro dan Lutnick dalam kesepakatan perdagangan besar.
Baca Juga: Iran Tolak Mentah-Mentah Tawaran Gencatan Senjata AS selama 48 Jam Meski demikian, Trump bisa saja tidak melakukan perubahan besar-besaran, karena terlalu sering melakukan
reshuffle sebelumnya menciptakan kesan chaos di Gedung Putih. Seorang pejabat menyebut kemungkinan
reshuffle bersifat “terarah” dan bukan “perombakan besar.” Pidato Trump pekan ini tidak menyertakan strategi keluar dari perang yang dimulai 28 Februari, meninggalkan kesan konflik terbuka. Alih-alih menawarkan solusi terhadap kekhawatiran ekonomi warga, ia menyalahkan Tehran atas dampak konflik. Survei
Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan hanya 36% publik menyetujui kinerja Trump secara keseluruhan, dan 60% menolak keputusan AS-Israel memulai perang dengan Iran.
Baca Juga: Paus Leo Pimpin Ibadah Jumat Agung, Pesan Keras untuk Pemimpin Dunia Menggema Sejumlah pejabat Gedung Putih mengatakan Trump frustrasi dengan liputan media yang dianggap tidak adil dan menginginkan lebih banyak berita positif. Namun, ia belum menunjukkan niat untuk menyesuaikan strategi pesannya sendiri. Sumber senior Gedung Putih menyebut kemungkinan
reshuffle menjadi lebih serius dalam beberapa minggu terakhir. “Mari kita katakan, berdasarkan informasi yang saya dengar, Bondi bukanlah yang terakhir,” ujar salah satu pejabat.