Trump Puji Jepang Aktif Soal Iran, Sindir NATO dalam Pertemuan dengan PM Takaichi
Jumat, 20 Maret 2026 02:42 WIB
Oleh: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut hangat Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Gedung Putih pada Kamis (19/3). Dalam pertemuan tersebut, Trump memuji sikap Jepang yang dinilainya lebih aktif dalam merespons konflik Iran, berbeda dengan aliansi NATO. Trump sebelumnya mengkritik sekutu-sekutunya yang dianggap memberikan dukungan setengah hati terhadap kampanye militer Amerika Serikat dan Israel. Meski demikian, ia tetap mendorong keterlibatan internasional, khususnya dalam upaya membersihkan ranjau laut dan mengawal kapal tanker di Selat Hormuz, yang sebagian besar ditutup Iran akibat konflik. Baca Juga: Perang Timur Tengah Mengancam, WTO Prediksi Perdagangan Global Hanya Tumbuh 1,9%
Menjelang pertemuan, Jepang bersama sejumlah negara Eropa merilis pernyataan bersama yang menegaskan komitmen untuk menstabilkan pasar energi global serta kesiapan berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sejumlah Negara Tolak Ajakan Koalisi Militer Donald Trump Merebut Selat Hormuz
Di Ruang Oval, Trump menyebut kemenangan pemilu Takaichi bulan lalu sebagai “bersejarah” dan menyatakan bahwa kedua negara akan membahas berbagai isu, mulai dari perdagangan hingga Iran. “Kami memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Jepang dalam banyak hal. Berdasarkan pernyataan terbaru mereka, Jepang benar-benar menunjukkan peran lebih besar, tidak seperti NATO,” kata Trump. Meski menekankan bahwa Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan, Trump menilai sudah sewajarnya negara-negara sekutu turut berkontribusi. “Kami tidak membutuhkan apa pun. Tapi saya pikir sudah tepat jika semua pihak ikut ambil bagian,” ujarnya. Sementara itu, Takaichi menyampaikan bahwa ia membawa sejumlah proposal konkret untuk meredakan gejolak pasar energi global. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Takaichi mengecam serangan Iran di Selat Hormuz dan menyebut Trump sebagai sosok yang diyakini mampu menciptakan perdamaian. Ia juga memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mengguncang ekonomi global. Namun di sisi lain, Jepang tetap menjalin komunikasi diplomatik dengan Teheran. Berbeda dengan Washington, Tokyo masih memiliki hubungan diplomatik dengan Iran, sehingga berpotensi menjadi jalur mediasi, meski upaya serupa pada 2019 belum membuahkan hasil. Tonton: Harga Minyak Tembus US$ 108: Serangan Ladang Gas Iran Picu Krisis Energi Global
Ketergantungan Energi
Kunjungan Takaichi ke Gedung Putih juga bertujuan memperkuat kemitraan keamanan dan ekonomi antara Jepang dan Amerika Serikat. Namun, muncul kekhawatiran bahwa Trump akan menekan Jepang untuk berbuat lebih jauh dalam konflik Iran. Sebagai negara yang bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Teluk, Jepang memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan energi. Menteri Keuangan AS sebelumnya menyebut Jepang kemungkinan akan meningkatkan peran, termasuk memanfaatkan cadangan minyak strategisnya. Meski demikian, Takaichi menegaskan bahwa Jepang belum menerima permintaan resmi dari Amerika Serikat terkait Iran, dan masih mengkaji langkah yang dapat diambil sesuai batasan konstitusi negaranya. Trump sendiri menyatakan bahwa isu energi akan menjadi salah satu topik utama pembahasan. Takaichi menambahkan, kedua negara juga akan membahas keamanan ekonomi, termasuk di sektor energi dan mineral. Selain itu, pejabat Jepang menyebut Takaichi juga ingin mengingatkan Trump tentang meningkatnya pengaruh China di kawasan, khususnya terkait Taiwan. Namun, pernyataan Takaichi sebelumnya soal Taiwan sempat memicu ketegangan dengan Beijing. Di tengah pertemuan, Takaichi menegaskan bahwa Jepang tetap terbuka untuk dialog dengan China. Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus US$ 119 per Barel, Efek Serangan Iran ke Qatar Energy
Kerja Sama Militer dan Investasi
Jepang juga diperkirakan akan diminta untuk memproduksi atau mengembangkan bersama rudal guna mengisi kembali stok amunisi AS yang menipis akibat perang di Iran dan Ukraina. Selain itu, Jepang berencana bergabung dalam inisiatif pertahanan rudal “Golden Dome” yang dirancang untuk mendeteksi dan menghadapi ancaman dari luar angkasa. Dalam bidang ekonomi, Takaichi dijadwalkan mengumumkan investasi baru Jepang di Amerika Serikat. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen sebelumnya senilai US$ 550 miliar untuk meredakan tekanan tarif dari Washington. Sebagai tahap lanjutan, Jepang diperkirakan akan menambah investasi sekitar US$ 60 miliar di sektor mineral kritis dan energi, setelah sebelumnya menggelontorkan US$ 36 miliar untuk tiga proyek utama.