KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyalahkan Kanada atas polusi asap kebakaran hutan yang menyelimuti sejumlah wilayah AS. Trump bahkan mengancam akan memasukkan biaya dampak polusi tersebut ke dalam tarif barang impor asal Kanada. Asap tebal dari ratusan kebakaran hutan di Kanada menyebar ke sejumlah wilayah AS, mulai dari kawasan Midwest hingga Timur Laut, sehingga otoritas setempat mengeluarkan peringatan kepada warga untuk tetap berada di dalam rumah.
Trump menyebut Kanada lalai dalam mengelola hutan sehingga menyebabkan udara tercemar masuk ke wilayah AS. Ia mengatakan akan membahas masalah tersebut dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Baca Juga: DPR AS Tolak Tarif Trump terhadap Kanada, Dampak Konsumen Jadi Sorotan "Kami akan meminta Kanada bertanggung jawab karena tidak merawat hutannya dengan baik. Biaya polusi ini harus ditambahkan ke tarif yang saat ini dibayarkan Kanada," kata Trump melalui unggahan di platform Truth Social. Trump menilai kondisi tersebut sebagai bentuk kelalaian yang berulang setiap tahun dan menimbulkan kerugian besar bagi Amerika Serikat. Ia sebelumnya telah menerapkan tarif terhadap sejumlah produk utama dari Kanada sejak kembali menjabat sebagai presiden pada 2025. Pemerintah Kanada membantah tudingan tersebut. Menteri Manajemen Darurat dan Ketahanan Komunitas Kanada Eleanor Olszewski mengatakan pemerintah telah mengalokasikan 12 miliar dolar Kanada atau sekitar US$ 8,56 miliar sejak 2020 untuk keberlanjutan hutan dan pencegahan kebakaran. Kanada juga menegaskan kerja sama dengan Amerika Serikat dalam penanganan kebakaran hutan telah berlangsung lama, termasuk pengerahan bantuan lintas negara untuk memadamkan kebakaran. Para ahli lingkungan menyebut peningkatan suhu akibat perubahan iklim menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko kebakaran hutan di Kanada. Cuaca yang lebih panas dan kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar. "Ketika iklim semakin panas, kita melihat cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi dan kebakaran hutan yang semakin meningkat," ujar Mike Flannigan, profesor kebakaran hutan dari Thompson Rivers University, Kanada.
Baca Juga: Tanggapi Trump, PM Kanada Tegaskan Tidak Membuat Kesepakatan Dagang dengan China Kebakaran terbesar tahun ini terjadi di Provinsi Ontario, terutama wilayah barat laut yang sulit dijangkau. Hingga saat ini, sekitar 2.630 kilometer persegi lahan telah terbakar, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ribuan warga terpaksa dievakuasi, termasuk masyarakat adat Namaygoosisagagun First Nation di Ontario yang wilayah permukimannya terbakar habis. Warga dievakuasi menggunakan perahu dan sebagian besar harus mencari tempat perlindungan di Kota Thunder Bay.
"Kondisinya sangat menyedihkan. Tidak ada yang tersisa, sehingga masyarakat benar-benar terpukul, kehilangan arah, dan kewalahan menghadapi situasi ini," kata Matthew Hoppe, koordinator tanggap darurat komunitas tersebut. Sementara itu, Pemerintah Ontario menyiapkan pembelian 11 pesawat baru untuk memperkuat upaya pemadaman kebakaran. Perdana Menteri Ontario Doug Ford juga membantah kritik sejumlah politisi AS yang menilai penanganan kebakaran di Kanada tidak memadai.
Baca Juga: Trump Ancam Larang Pembukaan Jembatan Baru AS–Kanada, Desak Perundingan dengan Ottawa Di sisi lain, Amerika Serikat juga menghadapi musim kebakaran yang lebih buruk dari rata-rata. Data National Interagency Fire Center menunjukkan sekitar 3,7 juta hektare lahan telah terbakar di AS sepanjang 2026, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 10 tahun terakhir sebesar 2,7 juta hektare.