KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah merespons upayanya untuk kembali membuka komunikasi dengan Pyongyang. Pernyataan tersebut disampaikan Trump sehari setelah ia memerintahkan Pentagon untuk mengurangi secara signifikan latihan militer bersama AS dan Korea Selatan.
Baca Juga: Jersey Michael Jordan di Final NBA 1998 Dilelang, Harga Dibuka US$ 10 Juta Trump juga menyebut Korea Utara sebagai negara yang "tidak mengancam dan menghormati". Ketika ditanya wartawan di Oval Office mengenai alasan Kim belum merespons upayanya untuk kembali menjalin hubungan, Trump menjawab, "Dia sudah merespons." Namun, Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai bentuk maupun isi respons Kim. Gedung Putih dan perwakilan Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York belum memberikan komentar terkait pernyataan tersebut. Hubungan Trump dan Kim menjadi salah satu isu utama selama periode pertama Trump sebagai presiden. Keduanya menggelar pertemuan tingkat tinggi pada 2018 dan 2019, sebelum perundingan mengenai program nuklir Korea Utara menemui jalan buntu. Sejak pertemuan terakhir pada 2019, Korea Utara semakin memperkuat hubungan dengan Rusia sekaligus mempertahankan hubungan dekat dengan China. Korea Utara juga mengirim pasukan untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina.
Baca Juga: Bunga Ditahan, Sentimen Konsumen Australia Menguat 6% pada Agustus Trump Kurangi Latihan Militer AS-Korea Selatan Pada Minggu (16/8), Trump memerintahkan Pentagon untuk "secara signifikan mengurangi" latihan militer bersama Korea Selatan. Ia menyebut biaya latihan sebagai salah satu pertimbangan, selain keputusan Seoul yang tidak bersedia terlibat dalam tindakan terhadap Iran. Korea Utara selama ini mengecam latihan militer AS-Korea Selatan sebagai persiapan untuk perang. Trump mengatakan Kim selalu memperlakukannya dengan penuh rasa hormat. "Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan sangat hormat," ujar Trump. "Saya memahami dia. Dia memahami saya," lanjutnya. Hubungan pribadi antara Trump dan Kim sebelumnya menjadi salah satu pendekatan utama pemerintahan Trump dalam upaya meredakan ketegangan terkait program nuklir Korea Utara. Namun, Kim kini berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan saat pertemuan terakhir dengan Trump. Pyongyang telah mempererat kerja sama dengan Rusia dan China, termasuk dukungan militer terhadap Rusia dalam perang di Ukraina.
Baca Juga: Gempa Dahsyat Picu Kerugian US$9,6 Miliar, Jadi Risiko Investasi Kolombia Peluang Pertemuan Trump-Kim Terbuka Sejumlah analis menilai peluang pertemuan kembali antara Trump dan Kim masih terbuka, meskipun Pyongyang sejauh ini menunjukkan sikap dingin terhadap pendekatan Washington. Victor Cha, kepala program Korea di Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperkirakan Korea Utara tidak akan buru-buru merespons pendekatan Trump. Menurut Cha, Kim kemungkinan akan menunggu momentum yang dianggap paling menguntungkan. Sementara itu, Andrew Yeo dari Brookings Institution menilai pertemuan dengan Trump tetap memiliki nilai strategis bagi Kim. "Ini tentang reputasi. Ini tentang bertemu kembali dengan presiden AS, jadi ini mengenai reputasi dan status," ujar Yeo. Menurutnya, Kim tidak memiliki banyak kerugian jika kembali bertemu Trump, terutama karena Korea Utara saat ini telah memiliki hubungan yang kuat dengan Rusia dan China.
Hubungan Trump dan Kim sebelumnya mencapai titik penting pada 2018 ketika keduanya bertemu di Singapura. Namun, pertemuan lanjutan di Hanoi pada 2019 berakhir tanpa kesepakatan mengenai denuklirisasi Korea Utara. Sejak saat itu, Pyongyang terus mengembangkan kemampuan nuklir dan rudalnya serta menghadapi berbagai sanksi internasional.
Baca Juga: Organisasi HAM Desak FIFA Halangi Infantino Maju untuk Periode Keempat