KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran akan dimulai pada Senin (3/8/2026) waktu setempat. Namun, ia menolak menetapkan tenggat waktu bagi tercapainya kesepakatan, setelah sebelumnya menyatakan telah membatalkan serangan yang sudah di ambang pelaksanaan demi memberi ruang bagi penyelesaian diplomatik. Trump sebelumnya mengungkapkan bahwa ia membatalkan serangan tersebut dengan harapan dapat segera mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz serta mengakhiri kebuntuan terkait program nuklir Iran.
Melalui platform Truth Social pada Sabtu (1/8/2026) malam, Trump mengatakan Iran dan sejumlah negara Timur Tengah meminta tambahan waktu untuk merampungkan kesepakatan yang akan menghasilkan "pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera, penuh, dan total" serta "mengakhiri ancaman nuklir Iran." Namun, menurut Trump, Teheran harus "segera mencapai KESPAKATAN." Saat kembali ke Washington dari akhir pekan di New Jersey pada Minggu (2/8/2026), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa negosiasi akan dimulai pada Senin sore waktu setempat. Meski demikian, ia tidak menjelaskan lokasi perundingan maupun pihak-pihak yang akan terlibat. Ketika ditanya apakah ada batas waktu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, Trump enggan memberikan jawaban. "Apakah saya lebih memilih mencapai kesepakatan? Ya. Saya tidak ingin membunuh orang karena ketika orang meninggal, banyak orang yang menjadi korban, dan kami tidak menginginkan itu," kata Trump. Selama beberapa bulan terakhir, Trump berulang kali mengancam akan meningkatkan perang terhadap Iran yang dimulainya bersama Israel pada akhir Februari. Namun, setiap ancaman tersebut kembali diikuti dengan pemberian waktu tambahan bagi proses negosiasi yang hingga kini belum menghasilkan kesepakatan komprehensif. Sikap Trump yang kembali meredakan ketegangan setelah beberapa hari saling melontarkan ancaman serangan terbaru menjadi perkembangan terbaru dalam konflik tersebut. Serangan telah meluas dari kawasan Teluk hingga Laut Merah, bahkan menjangkau sebuah fasilitas di kawasan Mediterania, Mesir.
Selat Hormuz Masih Jadi Titik Krusial
Iran hingga kini masih menutup sebagian besar akses Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelum perang menjadi lintasan sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Penutupan tersebut memicu kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global. Trump berpendapat bahwa upayanya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir layak dibayar dengan kenaikan harga bahan bakar dalam jangka pendek. Namun, tekanan ekonomi akibat lonjakan harga energi juga meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahannya untuk segera mengakhiri konflik. Di tengah harapan tercapainya jalur diplomasi, harga minyak dunia turun lebih dari 4% pada awal perdagangan Senin.
Iran Intensifkan Jalur Diplomasi
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan serta Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir untuk membahas berbagai upaya diplomatik, demikian dilaporkan media pemerintah Iran pada Minggu. Sebelumnya, kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa negosiasi antara Teheran dan Oman mengenai Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir dengan mengutip pernyataan Araqchi. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan pembicaraan tersebut berfokus pada kesepakatan mengenai rute baru di kawasan selat. Ia menambahkan bahwa pembahasan tersebut "tidak ada kaitannya dengan pembukaan atau penutupan Selat Hormuz. Itu merupakan pembahasan yang terpisah." Bulan lalu Iran secara terbuka menolak usulan Oman yang didukung negara-negara Teluk untuk mengelola Selat Hormuz secara bersama. Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa proposal itu mencakup mekanisme pungutan sukarela bagi kapal yang melintasi selat tersebut.
Israel Tegaskan Tetap Siap Bertindak
Di sisi lain, Menteri Energi Israel Eli Cohen, yang juga merupakan anggota kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan koordinasi keamanan dan intelijen antara Israel dan Amerika Serikat berlangsung sangat erat terkait seluruh perkembangan di kawasan.
Meski demikian, Cohen menegaskan bahwa Israel tetap akan bertindak apabila Iran kembali mengembangkan program nuklir maupun rudal balistiknya. "Dengan atau tanpa kesepakatan, dan terlepas dari komitmen eksternal apa pun, jika Iran berupaya menghidupkan kembali program nuklirnya atau mengembangkan industri rudal balistiknya, kami akan berada di sana. Kami akan bertindak, dan kami akan menyerang," ujar Cohen. Trump dan Netanyahu sebelumnya bertemu di Washington pada Selasa pekan lalu. Seorang pejabat Israel mengatakan kedua pemimpin membahas seluruh opsi untuk membatasi program nuklir Iran, mulai dari jalur diplomasi, tekanan ekonomi, hingga penggunaan kekuatan militer. Sementara itu, Iran terus membantah tuduhan bahwa negara tersebut sedang berupaya mengembangkan senjata nuklir.