Trump Sebut Perang Iran Akan Berakhir Setelah Pemilu AS, Minyak Tembus US$100



KONTAN.CO.ID - KAIRO/WASHINGTON/DUBAI. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal di sekitar jalur pelayaran strategis.

Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan umum sela AS pada November mendatang.

Pernyataan Trump muncul ketika gangguan terhadap jalur perdagangan energi global semakin parah. Harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$100 per barel karena pelayaran melalui Selat Hormuz dan Laut Merah masih mengalami gangguan berat.


Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu (9/9/2026), setelah Amerika Serikat menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Serangkaian serangan balasan tersebut menunjukkan bahwa peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat masih sangat kecil.

Trump juga menuding Teheran berupaya memengaruhi hasil pemilu sela Amerika Serikat pada November 2026. Pemilu tersebut akan menentukan apakah Partai Republik masih mampu mempertahankan kendali atas Kongres.

Baca Juga: Bank Sentral Eropa (ECB) Diprediksi Akan Naikkan Suku Bunga Hari Ini

"Saya pikir perang akan segera berakhir setelah pemilu karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mereka putus asa untuk mencoba memengaruhi pemilu," kata Trump kepada wartawan pada Rabu.

Trump sebelumnya juga telah beberapa kali menetapkan tenggat waktu bagi berakhirnya perang dengan Iran.

Namun, laporan The Wall Street Journal menyebutkan sejumlah penasihat senior Gedung Putih, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, secara pribadi telah memperingatkan Trump bahwa konflik tersebut berpotensi berlangsung hingga sisa masa kepresidenannya yang berakhir pada Januari 2029.

Reuters belum dapat segera memverifikasi laporan tersebut.

Trump Ancam Serang Fasilitas Nuklir Iran

Selain memprediksi berakhirnya perang, Trump kembali mengancam akan melancarkan serangan terhadap fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir Iran.

Trump mengatakan Amerika Serikat dapat menyerang Pickaxe Mountain, sebuah lokasi yang memiliki pertahanan kuat dan menjadi tempat dua kompleks terowongan yang berada jauh di bawah tanah. Lokasi tersebut berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan.

"Kami melihat ada sedikit aktivitas di Pickaxe. Saya menyarankan Iran untuk tidak macam-macam karena kami akan terpaksa menyerang mereka dengan sangat keras," ujar Trump dalam pidatonya pada konvensi Partai Republik untuk pemilu sela.

Baca Juga: Lonjakan AI Hadirkan Risiko Baru bagi Stabilitas Keuangan

Trump telah mengancam akan menyerang Pickaxe Mountain setidaknya sejak pertengahan Juli.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Februari, salah satunya didorong kekhawatiran terhadap program nuklir Teheran. Iran sendiri menyatakan bahwa aktivitas nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai.

Selat Hormuz Kembali Terganggu

Gangguan di Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian utama dalam eskalasi terbaru. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington sebelumnya menyatakan telah mencatat peningkatan keberhasilan dalam mengarahkan kapal tanker melewati selat tersebut.

Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Namun, meningkatnya kembali intensitas pertempuran pada bulan ini tampaknya menghambat upaya pembukaan kembali jalur pelayaran secara bertahap.

Data awal pelacakan kapal yang dirilis pada Kamis menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu. Angka tersebut sekitar separuh dari rata-rata selama 10 hari terakhir.

Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pasokan energi global dan menjadi salah satu faktor yang menopang harga minyak mentah Brent di atas US$100 per barel.

Konflik Arab Saudi dan Houthi Ikut Memanas

Eskalasi tidak hanya terjadi antara Iran dan Amerika Serikat. Pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman juga meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Konflik tersebut menjadi medan perang kedua yang berpotensi mengancam pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Efek Harga BBM Melonjak 27,7%, Inflasi Tahunan Final Jerman di Agustus Naik 2,9%

Koalisi pimpinan Arab Saudi pada Selasa mengatakan sedikitnya 73 orang terluka di empat kota di wilayah selatan Arab Saudi, termasuk Khamis Mushait, dalam serangkaian serangan Houthi terbaru.

Kelompok Houthi mengklaim telah menyerang sebuah pangkalan udara di Khamis Mushait serta infrastruktur minyak di sejumlah kota di sekitarnya. Serangan tersebut disebut sebagai salah satu serangan terbesar terhadap Arab Saudi sejak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada Februari.

Pada Kamis, otoritas pertahanan sipil Arab Saudi kembali mengeluarkan peringatan darurat di Khamis Mushait. Peringatan tersebut menjadi yang keempat dalam kurun waktu 24 jam ketika bentrokan dengan Houthi kembali meningkat.

Otoritas pertahanan sipil kemudian menyatakan kondisi telah aman dan mengeluarkan peringatan berakhir.

Eskalasi perang Iran, gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah, serta meningkatnya serangan Houthi terhadap Arab Saudi membuat risiko terhadap pasokan energi global semakin besar. Perkembangan tersebut juga meningkatkan ketidakpastian terhadap harga minyak dan stabilitas ekonomi global.