Trump Sebut Proposal Iran Sampah, Gencatan Senjata Terancam Gagal



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/DUBAI. Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memudar setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru dari Teheran untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Trump bahkan menyebut proposal Iran sebagai “sampah” dan menilai gencatan senjata yang telah berlangsung sejak 7 April kini berada dalam kondisi sangat rapuh.

Baca Juga: Hedge Fund Global Banjiri Asia, Pembelian Tertinggi ke Bursa Korsel, Jepang & Taiwan


“Saya menyebutnya berada pada titik terlemah saat ini setelah membaca proposal sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak menyelesaikan membacanya,” ujar Trump kepada wartawan, Selasa (12/5/2026).

Iran sebelumnya menolak proposal AS dan tetap mempertahankan sejumlah tuntutan utama. Di antaranya penghentian perang di seluruh kawasan termasuk Lebanon, penghormatan terhadap kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, kompensasi kerusakan akibat perang, hingga penghentian blokade laut AS.

Pemerintah AS sebelumnya mengusulkan penghentian pertempuran terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembahasan isu yang lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran.

Kebuntuan negosiasi tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi global. Harga minyak mentah Brent kembali melanjutkan kenaikan dan bertahan di atas US$ 104,5 per barel pada perdagangan Asia, Selasa pagi.

Baca Juga: Pemerintahan Trump Pinjamkan 53,3 Juta Barel Minyak dari Cadangan Strategis AS

Pasar menilai situasi di Selat Hormuz masih menjadi faktor risiko utama. Sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, jalur sempit tersebut menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Namun kini lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Data pelacakan kapal dari Kpler dan LSEG menunjukkan hanya sedikit kapal tanker minyak yang berhasil melintasi jalur tersebut dalam sepekan terakhir.

Beberapa kapal bahkan mematikan sistem pelacak untuk menghindari potensi serangan Iran. Sebuah kapal LNG asal Qatar juga dilaporkan masih berupaya melintasi selat tersebut di tengah tingginya ketegangan kawasan.

Gangguan distribusi minyak akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz memaksa banyak produsen memangkas ekspor.

Survei Reuters juga menunjukkan produksi minyak OPEC pada April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.

Baca Juga: Harga Minyak Mahal Akibat Konflik AS-Iran, Impor China dari Saudi Turun Tajam

Di sisi lain, AS kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui sanksi baru terhadap individu dan perusahaan yang dituding membantu pengiriman minyak Iran ke China.

Langkah tersebut dilakukan untuk membatasi sumber pendanaan program militer dan nuklir Teheran. Pemerintah AS juga memperingatkan perbankan internasional terkait upaya penghindaran sanksi.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5), di mana isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda pembahasan bersama Presiden China Xi Jinping.

Sementara itu, dukungan internasional terhadap langkah AS dinilai masih terbatas. Negara-negara anggota NATO disebut belum bersedia mengirim kapal untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa adanya kesepakatan damai penuh dan mandat internasional.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan juga dijadwalkan melakukan pembicaraan di Qatar pada Selasa guna membahas konflik Iran-AS dan keamanan navigasi di Selat Hormuz.