Trump Siap Kawal Kapal Keluar Selat Hormuz, Iran Ancam AS



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran memperingatkan Amerika Serikat agar tidak memasuki Selat Hormuz. Peringatan ini muncul setelah Presiden Donald Trump menyatakan rencana untuk membantu kapal-kapal yang terjebak akibat konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan bahwa Washington akan mulai membantu kapal-kapal yang terblokir di jalur strategis tersebut, meskipun tidak merinci mekanisme operasinya. Ia menyebut banyak kapal dan awaknya telah “terkunci” selama lebih dari dua bulan, menghadapi kekurangan pasokan makanan dan kebutuhan logistik lainnya.

"Kami telah memberi tahu negara-negara tersebut bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka keluar dengan aman dari perairan terbatas ini, sehingga mereka dapat kembali menjalankan aktivitas bisnis mereka dengan bebas dan lancar," ujar Donald Trump melalui platform Truth Social.

Iran Ancam Respons Keras


Menanggapi hal tersebut, komando gabungan angkatan bersenjata Iran memperingatkan bahwa setiap kehadiran militer asing di Selat Hormuz akan dianggap sebagai ancaman serius. Mereka menegaskan siap memberikan respons keras terhadap setiap upaya intervensi.

Baca Juga: Selat Hormuz Kian Panas: AS Turun Tangan, Iran Siap Balas

Ali Abdollahi, kepala komando gabungan militer Iran, menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di tangan Iran dan setiap pelayaran harus dikoordinasikan dengan militer mereka. Ia juga memperingatkan bahwa pasukan asing, khususnya militer AS, akan diserang jika mencoba memasuki wilayah tersebut.

Iran bahkan meminta kapal komersial dan tanker minyak untuk tidak melakukan pergerakan tanpa koordinasi dengan otoritas militernya.

AS Siapkan Kekuatan Militer

Di sisi lain, Komando Pusat AS atau United States Central Command (CENTCOM) menyatakan siap mendukung operasi tersebut dengan mengerahkan sekitar 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat, serta kapal perang dan drone.

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyebut dukungan ini penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan ekonomi global, di tengah upaya mempertahankan blokade laut yang sedang berlangsung.

Jalur Energi Global Terganggu

Menurut International Maritime Organization (IMO), ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut tidak dapat melintasi Selat Hormuz sejak konflik berlangsung. Situasi ini memperparah gangguan pasokan energi global, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu arteri utama distribusi minyak dan gas dunia.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Melonjak 5% Senin (4/5), KOSPI Cetak Rekor Tertinggi

Laporan terbaru juga menyebutkan adanya insiden serangan terhadap kapal tanker di perairan tersebut, meskipun seluruh awak dilaporkan selamat.

Selama lebih dari dua bulan terakhir, Iran disebut telah membatasi hampir seluruh aktivitas pelayaran dari Teluk, kecuali untuk kapal-kapalnya sendiri. Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi global, dengan harga minyak sempat kembali menembus level US$100 per barel.

Upaya Koalisi Internasional

Pemerintahan Trump juga dilaporkan tengah berupaya membentuk koalisi internasional guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pendekatan ini menggabungkan langkah diplomatik dan koordinasi militer, meskipun belum jelas negara mana saja yang akan terlibat.

Trump bahkan memperingatkan bahwa setiap upaya mengganggu operasi AS akan ditindak tegas dengan kekuatan militer.

Negosiasi Damai Masih Buntu

Di tengah eskalasi konflik, Iran menyatakan telah menerima respons dari AS terkait proposal perundingan damai. Proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan dan kini sedang ditinjau oleh Teheran.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa saat ini belum ada negosiasi nuklir yang berlangsung. Hal ini merujuk pada usulan Iran untuk menunda pembahasan isu nuklir hingga perang berakhir dan blokade pelayaran dicabut.

Di sisi lain, Washington tetap menuntut Iran untuk membatasi program nuklirnya, termasuk menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya tinggi. Iran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, meski membuka peluang diskusi terkait pembatasan tertentu jika sanksi dicabut.

Baca Juga: Greg Abel Pimpin Berkshire Hathaway, Daya Tarik Tanpa Warren Buffett Mulai Memudar?

Tekanan Politik dan Dampak Ekonomi

Konflik ini turut memberikan tekanan domestik bagi Trump, terutama terkait lonjakan harga energi di dalam negeri. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global yang melewati Selat Hormuz kini terganggu, berdampak pada kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat.

Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, isu ekonomi dan harga energi berpotensi menjadi faktor krusial bagi Partai Republik.

Sementara itu, proposal Iran mencakup berbagai tuntutan, mulai dari penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan blokade, pelepasan aset yang dibekukan, hingga pembentukan mekanisme baru pengawasan Selat Hormuz.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara risiko terhadap stabilitas energi global tetap tinggi.

TAG: