KONTAN.CO.ID - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengumumkan rencana pemulihan Gaza senilai US$ 2,45 miliar atau sekitar Rp 40 triliun dalam pertemuan
Board of Peace pada Rabu (23/9/2026). Mengutip laporan Axios yang dilansir
Reuters, rencana tersebut mencakup 66 proyek yang ditargetkan berjalan selama enam bulan. Proyek-proyek itu meliputi penyediaan hunian sementara, pembersihan puing-puing, perbaikan rumah sakit, pemulihan ekonomi, hingga pengerahan pasukan keamanan multinasional.
Baca Juga: AS-Iran Kembali Berunding, Harga Minyak Bertahan di Bawah US$ 100 Besarnya kebutuhan pemulihan Gaza tercermin dari estimasi kerusakan fisik yang mencapai US$ 35,2 miliar. Sementara itu, kebutuhan untuk pemulihan dan rekonstruksi secara menyeluruh diperkirakan mencapai sekitar US$ 71,4 miliar dalam 10 tahun ke depan. Rencana tersebut juga mencakup perbaikan fasilitas perlintasan perbatasan, pemulihan jaringan listrik dan air, serta pengadaan 25.000 perangkat pembangkit listrik tenaga surya portabel. Selain itu, proyek rekonstruksi akan mencakup penutupan permanen terowongan di bawah sejumlah lokasi yang dinilai penting bagi pelaksanaan proyek-proyek prioritas. Sebelumnya, pemerintahan Trump pada akhir Juli telah memberi tahu Kongres AS mengenai rencana pengiriman lebih dari US$ 206 juta untuk mendukung pasukan penjaga perdamaian di Gaza. Pendanaan tersebut menjadi langkah signifikan pertama dalam rencana AS untuk mendukung pembangunan kembali wilayah yang mengalami kehancuran akibat perang.
Baca Juga: Bosch Hadapi Tekanan Margin di Tengah Lesunya Otomotif Trump membentuk
Board of Peace untuk mengawasi rencana yang lebih luas guna mengakhiri perang Israel-Hamas di Gaza. Namun, implementasi kesepakatan yang diumumkan pada akhir Juli masih menghadapi hambatan politik. Menurut laporan Axios, baik Israel maupun kelompok Hamas belum memenuhi sejumlah persyaratan yang diperlukan agar kesepakatan tersebut dapat bergerak ke tahap berikutnya. Di sisi pendanaan,
Board of Peace bersama pemerintah Palestina disebut belum mengamankan seluruh kebutuhan sebesar US$ 2,45 miliar untuk tahap pemulihan enam bulan tersebut.
Meski demikian, pihak-pihak yang terlibat dalam rencana itu yakin negara-negara donor akan memberikan dukungan pendanaan setelah hambatan politik berhasil diselesaikan. Rencana enam bulan tersebut menjadi bagian awal dari kebutuhan rekonstruksi Gaza yang jauh lebih besar.
Baca Juga: Indeks Dolar AS Tembus 100,79 Rabu (23/9), Pasar Tunggu Arah Suku Bunga The Fed Dengan estimasi kebutuhan US$ 71,4 miliar selama satu dekade, keberhasilan program pemulihan akan sangat bergantung pada kombinasi dukungan donor, stabilitas politik, serta kemampuan mengamankan akses dan infrastruktur dasar di wilayah tersebut.