KONTAN.CO.ID. Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah dinilai lebih fokus mempromosikan proyek ballroom Gedung Putih dibanding merespons tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat Amerika Serikat akibat lonjakan harga energi. Saat berdiri di depan lokasi pembangunan ballroom Gedung Putih pada Selasa (21/5/2026), Trump meminta masyarakat bersabar menghadapi kenaikan harga bensin yang dipicu perang Iran.
Baca Juga: Uber Bidik Delivery Hero, Persaingan Layanan Antar Memanas “This is peanuts,” ujar Trump merujuk dampak ekonomi perang Iran terhadap Amerika Serikat. “Saya menghargai semua orang yang bertahan untuk sementara waktu. Ini tidak akan berlangsung lama.” Trump Disebut Terlalu Fokus pada Proyek Warisan Berdasarkan tinjauan
Reuters, Trump tercatat telah menyebut proyek ballroom Gedung Putih sedikitnya 40 kali sepanjang tahun ini, baik melalui pidato, media sosial, maupun komentar kepada wartawan. Jumlah tersebut bahkan melampaui total penyebutannya sepanjang 2025 yang mencapai 35 kali.
Baca Juga: Nissan Batal Produksi Powertrain Mobil Listrik di Inggris Trump juga beberapa kali mempromosikan proyek tersebut di berbagai kesempatan, mulai dari wawancara di Air Force One, pertemuan di Oval Office, hingga unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social. Pihak Gedung Putih menolak anggapan Partai Demokrat yang menyebut proyek ballroom sebagai proyek ambisi pribadi. “Ini tentang warisan, bukan kesombongan,” ujar seorang pejabat Gedung Putih. Republikan Mulai Khawatir Ballroom Jadi Distraksi Sejumlah politisi Partai Republik mulai khawatir fokus Trump terhadap proyek ballroom justru menjadi distraksi menjelang pemilu paruh waktu November mendatang. Seorang operator kampanye senior Partai Republik mengatakan hasil focus group menunjukkan pemilih mulai mempertanyakan perhatian Gedung Putih terhadap proyek-proyek simbolik di tengah tekanan ekonomi.
Baca Juga: China Kirim Astronaut Setahun Penuh Demi Kejar Ambisi Bulan “Bagi pemilih, pesan yang muncul dari Gedung Putih adalah Trump fokus pada proyek ambisi pribadi dan kebijakan luar negeri, sementara itu bukan hal yang benar-benar dipedulikan pemilih,” katanya. Senator Partai Republik dari Wyoming, Cynthia Lummis, juga menilai perhatian terhadap proyek ballroom sudah terlalu berlebihan. “Itu benar-benar menyita terlalu banyak perhatian,” ujarnya. Biaya Keamanan Ballroom Tuai Penolakan Trump mengklaim telah menghimpun dana sekitar US$ 400 juta dari donor kaya dan dana pribadinya untuk pembangunan ballroom tersebut. Namun, United States Secret Service disebut meminta tambahan dana publik sebesar US$ 1 miliar untuk pengamanan ballroom dan kompleks Gedung Putih.
Baca Juga: Serangan Rudal dan Drone Rusia Hantam Kyiv, Empat Tewas dan Puluhan Luka Usulan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah anggota parlemen, termasuk dari Partai Republik. Pekan lalu, proposal anggaran keamanan itu akhirnya dicoret sementara dari rancangan belanja Senat AS. Demokrat Sebut Trump Tak Peka Politisi Partai Demokrat memanfaatkan isu tersebut untuk menyerang Trump menjelang pemilu Kongres. Senator Demokrat dari Georgia, Raphael Warnock menilai fokus Trump terhadap ballroom menunjukkan ketidakpekaan terhadap kondisi masyarakat.
Baca Juga: China Kirim Astronaut untuk Misi Setahun di Stasiun Luar Angkasa “Saya tidak bisa membayangkan di saat masyarakat kesulitan membeli bahan makanan akibat tarif Trump yang tinggi, Partai Republik justru fokus pada ballroom,” ujarnya.
“Tidak peka adalah istilah yang terlalu halus,” tambah Warnock. Popularitas Trump Tertekan Akibat Isu Ekonomi Di tengah perang Iran, kenaikan harga energi, dan tekanan inflasi, Trump dinilai lebih sering membahas proyek-proyek warisan seperti ballroom Gedung Putih, renovasi Reflecting Pool Washington, hingga rencana pembangunan Independence Arch setinggi 250 kaki di ibu kota AS. Padahal, sejumlah penasihat Gedung Putih dan politisi Republik telah mendorong Trump agar lebih fokus pada isu ekonomi yang menjadi perhatian utama pemilih menjelang pemilu November.