Trump Tegaskan Tak Buru-buru Capai Kesepakatan Iran, Blokade AS Tetap Berlaku



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran terkait upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Pernyataan itu sekaligus meredam harapan pasar terhadap tercapainya terobosan damai dalam waktu dekat.

Dalam pernyataannya di Truth Social pada Minggu (24/5/2026), Trump menegaskan blokade AS terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan resmi yang disetujui dan ditandatangani kedua pihak.


Baca Juga: Trump: Kesepakatan Damai Iran Hampir Jadi, Jalur Energi Dunia Siap Dibuka Lagi

“Blokade terhadap kapal Iran akan tetap berlaku penuh sampai kesepakatan benar-benar tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani,” tulis Trump.

Trump mengatakan, proses negosiasi antara Washington dan Teheran terus mengalami kemajuan dan hubungan kedua negara kini berjalan lebih profesional dan produktif.

Namun, ia menegaskan kedua pihak perlu berhati-hati dalam menyusun kesepakatan.

“Kedua pihak harus meluangkan waktu dan memastikan semuanya benar. Tidak boleh ada kesalahan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut berbeda dengan nada optimistis yang disampaikan Trump sehari sebelumnya.

Baca Juga: Trump Klaim Kesepakatan Perdamaian Iran Hampir Final, Selat Hormuz Akan Dibuka

Pada Sabtu (23/5), Trump menyebut AS dan Iran telah “sebagian besar menyepakati” memorandum kesepahaman yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.

Sebelum konflik pecah pada Februari lalu, Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Meski demikian, hingga kini belum jelas apakah kesepakatan yang dimaksud Trump hanya berupa memorandum awal atau mencakup perjanjian damai yang lebih luas dan kompleks, yang kemungkinan membutuhkan waktu lebih lama untuk dirampungkan.

AS dan Iran masih memiliki sejumlah perbedaan mendasar, termasuk terkait program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pembebasan puluhan miliar dolar dana hasil ekspor minyak Iran yang dibekukan di luar negeri.

Baca Juga: AS-Iran Dekati Damai, Selat Hormuz Berpotensi Dibuka Kembali

Sejumlah media di AS dan Iran sebelumnya melaporkan memorandum tersebut akan menjadi kerangka awal penghentian konflik, pencabutan blokade AS terhadap pelayaran Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama konflik berada di bawah ancaman penutupan oleh Teheran.

Sumber senior Iran kepada Reuters mengatakan, apabila memorandum itu disetujui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dokumen tersebut akan diserahkan kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk mendapatkan persetujuan akhir.

Namun, kantor berita Tasnim menyebut masih terdapat perbedaan pandangan terkait satu atau dua klausul dalam rancangan kesepakatan tersebut.

Tasnim juga mengutip sumber yang menyebut tidak akan ada kesepakatan final apabila AS terus menciptakan hambatan dalam proses negosiasi.

Dalam perkembangan lain, penasihat militer Ayatollah Khamenei mengatakan Iran memiliki hak legal untuk mengelola Selat Hormuz, meski belum jelas apakah itu berarti Iran tetap akan menentukan kapal mana yang boleh melintas.

Baca Juga: Uber Bidik Delivery Hero, Persaingan Layanan Antar Memanas

Kesepakatan damai dinilai dapat meredakan tekanan pasar global, tetapi belum tentu langsung mengakhiri krisis energi dunia yang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar, pupuk, dan pangan.

Kepala Abu Dhabi National Oil Company sebelumnya memperkirakan arus penuh pelayaran di Selat Hormuz baru akan pulih pada kuartal I atau kuartal II tahun 2027, meski perang berakhir sekarang.

Iran Revolutionary Guards juga melaporkan hanya 33 kapal yang melintas di Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir setelah memperoleh izin dari Teheran. Jumlah itu masih jauh di bawah rata-rata 140 kapal per hari sebelum konflik pecah.

Trump kembali menegaskan tujuan utama serangan AS terhadap Iran adalah mencegah Teheran memiliki senjata nuklir.

“Iran harus memahami bahwa mereka tidak boleh mengembangkan atau memiliki senjata nuklir,” tulis Trump.

Baca Juga: China Kirim Astronaut Setahun Penuh Demi Kejar Ambisi Bulan

Iran selama ini membantah tengah mengembangkan senjata nuklir dan menegaskan program pengayaan uranium yang dijalankan bertujuan sipil.

Namun, tingkat pengayaan uranium Iran disebut jauh melampaui kebutuhan pembangkit listrik biasa.

Sumber Reuters menyebut rancangan kerangka kesepakatan nantinya akan berlangsung dalam tiga tahap, yakni penghentian resmi perang, penyelesaian krisis Selat Hormuz, dan pembukaan negosiasi lanjutan selama 30 hari untuk membahas kesepakatan yang lebih luas.