KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (15/3/2026) menuduh Iran memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai “senjata disinformasi” untuk menampilkan keberhasilan mereka dalam perang dan memperoleh dukungan publik. Trump menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan di Air Force One, tak lama setelah memposting di platform Truth Social miliknya, di mana ia menuduh media Barat tanpa bukti melakukan “koordinasi erat” dengan Iran untuk menyebarkan berita palsu berbasis AI. “AI bisa sangat berbahaya, kita harus sangat berhati-hati dengannya,” ujar Trump.
Baca Juga: Tolak Permintaan AS, Jepang Belum Berencana Kirim Misi Pengawalan ke Selat Hormuz Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang kembali meningkat antara Federal Communications Commission (FCC) dan stasiun penyiaran, setelah Trump menyoroti liputan media terkait perang AS dan Israel dengan Iran. Ketua FCC Brendan Carr sebelumnya memperingatkan akan mencabut lisensi penyiar yang dianggap tidak “mengoreksi” liputannya. Trump selama ini kerap menuding media berbohong ketika melaporkan berita yang dianggapnya kritis terhadap dirinya, dan ia pernah menyerukan pencabutan lisensi beberapa outlet penyiaran yang dianggap tidak adil. Dalam postingannya dan komentar kepada wartawan, Trump mengutip tiga contoh penggunaan AI oleh Iran untuk menyesatkan publik. Di Truth Social, Trump menyebut Iran menampilkan “kapal kamikaze” yang sebenarnya tidak ada. Ia juga menuduh Iran menggunakan AI untuk menggambarkan serangan sukses terhadap kapal induk USS Abraham Lincoln, bahkan menyatakan publikasi yang menyebarkan berita tersebut seharusnya dikenai tuduhan pengkhianatan. Reuters telah memverifikasi adanya gambar dari pelabuhan Basra, Irak, yang memperlihatkan kapal-kapal Iran bermuatan bahan peledak menyerang dua kapal tanker, menewaskan sedikitnya satu awak. Media Iran memang mengklaim militer mereka menyerang USS Abraham Lincoln, namun klaim ini tidak banyak diberitakan media Barat.
Baca Juga: Bursa Asia Waspada Senin (16/3), Harga Minyak Bergolak karena Ketegangan Hormuz Trump juga menuding gambar yang menunjukkan “250.000” orang Iran menghadiri unjuk rasa mendukung Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, sepenuhnya dihasilkan AI dan acara itu “tidak pernah terjadi.” Memang telah terjadi beberapa demonstrasi pro-pemerintah di Iran sejak perang dimulai, tetapi Reuters tidak menemukan laporan Barat yang menyebut jumlah 250.000 orang. Media, termasuk Reuters, telah menayangkan foto kerumunan di Teheran setelah Khamenei dinyatakan sebagai pemimpin. Trump tidak merinci laporan berita Iran mana yang menjadi referensinya.