KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan baru terhadap Iran selama masih ada peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat untuk menghentikan program nuklir Teheran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Sabtu (1/8/2026) malam waktu setempat, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Trump mengatakan Iran bersama "negara-negara lain di Timur Tengah" meminta waktu untuk merampungkan sebuah kesepakatan yang akan menghasilkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh serta mengakhiri ancaman nuklir Iran.
"Berdasarkan permintaan tersebut, saya telah menyetujui, demi masa depan DUNIA dan juga demi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai," tulis Trump.
Baca Juga: Ledakan Bom di Restoran Mewah Moskow Tewaskan 3 Orang, Puluhan Terluka Trump juga mengklaim Israel mendukung langkah tersebut. "Israel bergabung dengan saya dalam komitmen ini," tambahnya. Namun hingga berita ini ditulis, pemerintah Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai klaim tersebut.
Iran Ancam Balas Jika Diserang
Di sisi lain, Iran kembali memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengambil langkah militer baru. Teheran menegaskan akan memberikan respons tegas apabila Washington benar-benar melancarkan serangan terhadap wilayah Iran. Peringatan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam serangkaian pembicaraan telepon terpisah dengan pejabat senior Turki, Pakistan, dan Arab Saudi pada Sabtu (2/8). Pernyataan Araqchi muncul hanya beberapa jam setelah militer Kuwait mengumumkan telah menghancurkan sejumlah drone yang disebut diluncurkan Iran dan mengarah ke beberapa fasilitas vital di negara tersebut. Dalam pembicaraan dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir serta Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Araqchi menegaskan Iran siap merespons setiap aksi militer. "Iran akan memberikan respons yang tegas terhadap setiap agresi." Ia juga membahas dampak dari "tindakan yang mengganggu stabilitas" oleh Amerika Serikat serta meningkatnya risiko ketidakamanan di kawasan, menurut unggahan Araqchi di akun Telegram miliknya. Kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, Araqchi kembali menegaskan bahwa setiap serangan dari Amerika Serikat maupun Israel, termasuk jika ada negara kawasan yang ikut terlibat, akan dibalas secara proporsional. Sementara itu, seorang pejabat Amerika Serikat kepada Axios mengatakan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berbicara melalui telepon dengan Trump pada Sabtu dan menyampaikan kekhawatirannya serta meminta penjelasan mengenai rencana Washington terhadap Iran.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Kepung Washington, Ribuan Warga Dievakuasi Seorang pejabat Gedung Putih juga mengonfirmasi kepada Reuters bahwa percakapan tersebut memang berlangsung, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Iran Ancam Infrastruktur Energi Kawasan
Media Iran, Nournews, yang berafiliasi dengan badan keamanan tertinggi negara itu, melaporkan bahwa apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang ladang minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab serta ladang gas di Qatar dan Israel. Media tersebut bahkan menyatakan bahwa seluruh fasilitas tersebut "akan dibakar hingga menjadi abu." Sebelumnya, dalam rapat kabinet di Camp David pada Jumat (1/8), Trump mengatakan masih percaya tim negosiator Amerika Serikat, termasuk Jared Kushner, utusan khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, masih memiliki peluang mencapai kesepakatan dengan Iran. Meski demikian, Trump mengaku mulai kehilangan kepercayaan kepada pemerintah Iran. "Mereka terlalu sering mengingkari janji," katanya. Trump juga menegaskan bahwa dirinya siap melakukan serangan apabila diplomasi gagal. "Saya akan menghantam mereka," terangnya.
Selat Hormuz Jadi Sorotan
Ketegangan yang terus meningkat membuat Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi pengiriman minyak dan gas global. Harga minyak dunia tetap bertahan di level tinggi sejak perang dimulai setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Trump berpendapat bahwa upaya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir layak dibayar dengan kenaikan harga energi dalam jangka pendek. Namun, lonjakan harga bahan bakar juga meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahannya agar segera mengakhiri konflik.
Baca Juga: Konsorsium Amanda Staveley Sepakat Beli 25,1% Saham West Ham United Sepanjang Juli, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 24%. Hasil jajak pendapat Reuters terhadap para analis juga memperkirakan harga minyak masih berpotensi naik hingga akhir tahun. Ancaman serangan Iran telah membuat sebagian besar kapal menghindari pelayaran melalui Selat Hormuz sejak konflik pecah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global dan meningkatkan tekanan terhadap perekonomian dunia.
Insiden Keamanan Berlanjut
Militer Kuwait pada Sabtu melaporkan sebuah fasilitas pemerintah di wilayah utara negara itu serta aset milik sebuah perusahaan sipil di Pulau Bubiyan terkena serpihan benda jatuh yang menyebabkan kerusakan material, meski tidak menimbulkan korban jiwa. Kekhawatiran sektor energi juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran kembali mengancam jalur pelayaran Bab el-Mandeb, selat strategis di pintu masuk Laut Merah yang juga menjadi rute penting ekspor minyak Arab Saudi. Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan menerima laporan dua insiden maritim di lepas pantai Oman pada Sabtu. Dalam salah satu insiden, sebuah kapal tanker terkena proyektil yang belum diketahui asalnya sehingga merusak ruang mesin kapal. Pada insiden lainnya, nakhoda kapal tanker melaporkan melihat ledakan besar di dekat kapalnya, namun tidak ada kerusakan yang dilaporkan.