KONTAN.CO.ID - WASHINGTON D.C. – Arus geopolitik Timur Tengah mendadak berbalik arah. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J. Trump mengumumkan bahwa Pemerintah Republik Lebanon dan Negara Israel telah resmi menyepakati gencatan senjata selama 10 hari, terhitung mulai Kamis (16/4) pukul 17:00 EST atau Jumat (17/4) pukul 04:00 WIB. Kesepakatan ini tercapai setelah pembicaraan langsung yang alot sejak 14 April lalu, yang melibatkan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Momentum bersejarah ini menandai pertama kalinya kedua negara duduk satu meja di Washington D.C. dalam 34 tahun terakhir, di bawah pengawasan langsung Sekretaris Negara AS Marco Rubio.
KEMLU RI TANGGAPI PELANGGARAN UDARA PESAWAT MILITER AS
© 2026 Konten oleh Kontan
Pembersihan Kelompok Non-Negara
Dalam pengumuman resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut, pada dokumen kesepakatan tersebut, kedua negara sepakat untuk menciptakan kondisi damai yang langgeng serta pengakuan penuh terhadap kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing. Poin krusial dalam perjanjian ini adalah penegasan bahwa tidak boleh ada kelompok bersenjata non-negara yang beroperasi di wilayah Lebanon. Lebanon berkomitmen bahwa satu-satunya kekuatan yang sah untuk memegang senjata hanya meliputi: Pertama, Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF); Kedua, Pasukan Keamanan Internal (ISF); Ketiga, Direktorat Keamanan Umum; Keempat, Direktorat Jenderal Keamanan Negara; Kelima, Bea Cukai Lebanon; dan Keenam, Polisi Pemerintah Daerah (Municipal Police) Langkah ini secara eksplisit bertujuan untuk memangkas pengaruh Hizbullah dan kelompok bersenjata lainnya yang selama ini dianggap merongrong stabilitas kawasan. Baca Juga: Minyak Terjungkal di Bawah US$ 100 Pasca Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 MingguGencatan Senjata dan Hak Bela Diri
AS Klaim Blokade Total! Perdagangan Laut Iran Lumpuh dalam 36 Jam
© 2026 Konten oleh Kontan