Trump: Xi Setuju Iran Harus Buka Selat Hormuz, Tetapi Tidak Ada Tanda Ikut Campur



KONTAN.CO.ID - DUBAI. Presiden Amerika Serikat (AS_ Donald Trump mengatakan Presiden China Xi Jinping telah setuju bahwa Teheran harus membuka kembali Selat Hormuz, — meskipun China tidak memberikan indikasi bahwa akan ikut campur.

Hal tersebut diungkap Trump dalam penerbangan kembali dari Beijing setelah dua hari pembicaraan dengan Xi. 

Lebih lanjut Trump mengatakan, dia sedang mempertimbangkan apakah akan mencabut sanksi AS terhadap perusahaan minyak China yang membeli minyak Iran. China adalah pembeli minyak Iran terbesar.


"Saya tidak meminta bantuan apa pun karena ketika Anda meminta bantuan, Anda harus membalasnya," kata Trump ketika ditanya oleh seorang reporter di Air Force One apakah Xi telah membuat komitmen tegas untuk menekan Iran agar membuka kembali selat tersebut. 

Baca Juga: Peringatan WHO: Wabah Ebola di Kongo & Uganda Capai Level Tertinggi

Xi tidak berkomentar tentang diskusinya dengan Trump tentang Iran, meskipun Kementerian Luar Negeri China mengkritik perang tersebut, menyebutnya sebagai konflik "yang seharusnya tidak pernah terjadi, tidak ada alasan untuk berlanjut."

Iran secara efektif menutup selat tersebut, yang sebelumnya dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, sebelum AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari. 

Gangguan terhadap pengiriman telah menyebabkan krisis pasokan minyak terbesar dalam sejarah, yang mendorong kenaikan harga minyak. 

Ebrahim Azizi, yang memimpin komite keamanan nasional parlemen Iran, mengatakan pada hari Sabtu (16/5/2026) bahwa Teheran telah menyiapkan mekanisme untuk mengatur lalu lintas melalui selat tersebut di sepanjang rute yang telah ditentukan yang akan segera diumumkan.

Azizi mengatakan, hanya kapal komersial dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapat manfaat, dan biaya akan dikumpulkan untuk layanan khusus yang diberikan di bawah mekanisme tersebut. 

Ribuan warga Iran tewas dalam serangan udara AS dan Israel. Ribuan orang lainnya telah tewas di Lebanon dalam pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, meskipun Israel dan Lebanon pada hari Jumat menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 45 hari yang telah meredakan konflik di sana.

AS menghentikan serangannya bulan lalu tetapi memulai blokade pelabuhan. Hingga Sabtu, 78 kapal komersial telah dialihkan dan empat dinonaktifkan untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade, kata militer AS.

Baca Juga: Nikolas Maduro Terancam! Sekutu Terdekatnya, Alex Saab, Dideportasi ke AS

Teheran, yang melakukan serangan terhadap Israel, pangkalan AS, dan negara-negara Teluk setelah perang dimulai, mengatakan tidak akan membuka blokade selat sampai AS mengakhiri blokadenya. Trump mengancam akan melanjutkan serangan jika Iran tidak menyetujui kesepakatan.

"Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, kami ingin selat terbuka," kata Trump di Beijing, bersama Xi.

Iran, yang sejak lama membantah berniat membangun senjata nuklir, menolak mengakhiri penelitian nuklir atau melepaskan persediaan uranium yang diperkaya yang disembunyikannya. 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran telah menerima pesan dari AS yang menunjukkan Washington bersedia melanjutkan pembicaraan.

Pakistan telah menjadi mediator antara Washington dan Teheran. Kantor berita Iran Nournews mengatakan Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni telah mengadakan diskusi "terperinci" dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan yang berkunjung mengenai hubungan Iran-Pakistan dan prospek dimulainya kembali pembicaraan perdamaian, tetapi tidak memberikan rincian.

TRUMP MULAI KEHILANGAN KESABARAN

Trump, yang mengatakan kepada program "Hannity" Fox News dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada hari Kamis bahwa ia mulai kehilangan kesabaran terhadap Iran, mengatakan Teheran "harus membuat kesepakatan".

Meskipun krisis terus mengguncang perekonomian global, Iran dijadwalkan untuk membuka kembali pasar sahamnya pada hari Selasa setelah penangguhan sejak awal serangan udara AS-Israel, demikian kata seorang pejabat senior yang dikutip oleh kantor berita IRNA Iran.

"Penangguhan aktivitas pasar saham sejak awal perang bertujuan untuk melindungi aset pemegang saham, mencegah perdagangan yang didorong oleh kepanikan, dan memungkinkan kondisi penetapan harga yang lebih transparan," kata Hamid Yari, wakil pengawas di Organisasi Sekuritas dan Bursa.

Pembicaraan tentang pengakhiran perang telah ditangguhkan sejak pekan lalu ketika Iran dan AS masing-masing menolak proposal terbaru dari pihak lain. Araqchi mengatakan pada hari Jumat bahwa Iran akan menyambut masukan dari Tiongkok, menambahkan bahwa Teheran mencoba memberi kesempatan pada diplomasi tetapi tidak mempercayai AS, yang telah membatasi putaran pembicaraan sebelumnya dengan melancarkan serangan udara.

Baca Juga: Presiden FFIRI Ditolak Masuk AS dan Kanada, Bagaimana Nasib Iran di Piala Dunia?

Ketika AS dan Israel melancarkan serangan mereka terhadap Iran, mereka mengatakan salah satu tujuan mereka adalah untuk melemahkan pemerintah sehingga rakyat Iran dapat menggulingkan pemerintah.

Selama perang, hanya sedikit tanda-tanda perbedaan pendapat terorganisir di Iran, dan kelompok hak asasi manusia mengatakan pemerintah telah menindak keras lawan-lawannya.

Lembaga peradilan Iran pada hari Sabtu mengatakan bahwa 39 orang telah dieksekusi karena berkolaborasi dengan badan intelijen Israel atau AS, atau mengambil bagian dalam "teror" atau kerusuhan bersenjata, sejak perang dimulai, demikian dilaporkan kantor berita lembaga peradilan, Mizan.

Disebutkan bahwa 36 pembangkang "tingkat menengah" telah menerima hukuman penjara yang panjang.