KONTAN.CO.ID - Penantian panjang Inggris untuk kembali menjuarai Piala Dunia atau setidaknya mencapai partai final kembali berlanjut setelah kalah 1-2 dari juara bertahan Argentina pada semifinal, Rabu (15/7/2026). Meski kembali mengalami kekecewaan, pelatih Inggris Thomas Tuchel menolak menyebut hasil tersebut sebagai kutukan.
Baca Juga: Perang AS-Iran Makin Bikin Was-Was, Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Kamis (16/7) Inggris belum pernah lagi tampil di final Piala Dunia sejak meraih gelar satu-satunya pada 1966. Pada laga semifinal kali ini, The Three Lions sempat berada di jalur menuju final sebelum Argentina mencetak dua gol di menit-menit akhir. "Saya lebih suka melihat ini sebagai persoalan sepak bola, bukan kutukan sepak bola. Saya tidak terlalu percaya pada hal-hal seperti kutukan Inggris atau sejarah yang terus berulang dalam momen seperti ini," ujar Tuchel kepada wartawan. Menurut pelatih asal Jerman tersebut, setiap kegagalan terjadi dalam konteks yang berbeda. "Pelatihnya berbeda, pemainnya berbeda, situasinya berbeda, lawannya juga berbeda. Jadi saya percaya ini murni soal sepak bola," katanya.
Baca Juga: Bank Sentral Korea Selatan Naikkan Suku Bunga ke 2,75%, Sesuai Ekspektasi Pasar Dua pertandingan dalam satu laga Inggris unggul lebih dulu pada menit ke-55 melalui gol Anthony Gordon. Namun setelah itu, Argentina mengambil alih kendali permainan dan terus menekan pertahanan Inggris. Tuchel menilai timnya memang layak unggul pada saat gol tercipta. "Pada momen itu kami pantas memimpin 1-0. Namun anehnya, gol tersebut justru mengubah momentum pertandingan sepenuhnya," ujarnya. Ia menilai Argentina bermain lebih berani dan lebih bebas setelah tertinggal. "Argentina bermain dengan lebih banyak risiko, ritme yang lebih tinggi, dan mungkin dengan perasaan bahwa mereka tidak lagi punya apa-apa untuk kehilangan. Itu membebaskan mereka, sementara kami justru bermain dengan perasaan bahwa kami punya banyak hal untuk dipertahankan." "Menurut saya ada dua pertandingan yang berbeda: sebelum gol dan sesudah gol."
Baca Juga: CEO JPMorgan: AI Canggih Berisiko Tinggi, Akses Harus Dibatasi Siap menerima kritik Meski mendapat banyak pujian karena berhasil membawa Inggris hingga semifinal melalui kemenangan atas Republik Demokratik Kongo, Meksiko, dan Norwegia, Tuchel kini mulai dikritik karena perubahan taktik setelah timnya unggul dan dianggap terlalu defensif. Tuchel mengatakan kritik merupakan konsekuensi dari kekalahan. "Begitulah sepak bola. Begitu Anda kalah, Anda akan dikritik. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika keputusan yang diambil berbeda. Saya bertanggung jawab atas keputusan tersebut, jadi saya juga menerima kritiknya," ujarnya.
Baca Juga: Messi Memimpin Klasemen Top Skor Piala Dunia 2026, Siapa yang Bisa Mengejar? Perebutan tempat ketiga
Inggris kini harus menghadapi Prancis pada laga perebutan tempat ketiga, Sabtu (19/7). Namun Tuchel mengakui bahwa saat ini sulit baginya maupun para pemain untuk merasa puas dengan pencapaian mencapai semifinal. "Banyak negara besar tersingkir sebelum semifinal, jadi ini sebenarnya sebuah pencapaian. Tetapi saat ini tidak ada yang ingin mendengarnya, termasuk saya sendiri, karena kami menuntut yang terbaik dari diri kami." "Tidak ada pemain Inggris maupun pemain Prancis yang ingin memainkan laga perebutan tempat ketiga. Mereka semua ingin bermain di final. Kami sudah memberikan segalanya untuk mencapai final. Semua tim datang untuk menjuarai Piala Dunia, tetapi inilah kenyataannya," tutup Tuchel.