Tugu Reasuransi (Tugure) Waspadai Tekanan Geopolitik pada Reasuransi Energi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyebut sentimen geopolitik global dan fluktuasi harga minyak mulai mengubah lanskap bisnis reasuransi energi, khususnya pada segmen energi onshore dan offshore

Corporate Secretary Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure), Eko Susanto mengatakan, lini bisnis energi masih menunjukkan prospek yang cukup baik di tengah dinamika global. Hal itu ditopang oleh aktivitas sektor migas, petrokimia, pembangkit listrik, hingga proyek energi strategis nasional yang masih berjalan.

Menurut dia, kebutuhan proteksi pada sektor energi tetap tinggi, baik untuk aset produksi, distribusi, maupun infrastruktur energi nasional.


“Lini bisnis energi hingga saat ini masih menjadi salah satu segmen penting dalam portofolio reasuransi perseroan,” ujar Eko kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Kendati demikian, Eko mengatakan pasar reasuransi global kini tengah menerapkan seleksi risiko yang lebih ketat. Pengetatan terlihat dari sisi terms and conditions maupun klausul pada risiko kompleks seperti Floating Production Storage and Offloading (FPSO).

Baca Juga: Tugure Bidik Pemenuhan Ekuitas Minimum Rp 2 Triliun pada 2028 Lewat Upaya Ini

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia juga mendorong peningkatan nilai aset yang diasuransikan (declared value). Kondisi tersebut meningkatkan eksposur risiko perusahaan asuransi dan reasuransi sekaligus memicu penyesuaian kapasitas serta premi.

“Hal ini tidak hanya meningkatkan akumulasi eksposur risiko yang harus dikelola perusahaan asuransi, tetapi juga mendorong penyesuaian kapasitas dan premi,” katanya.

Lebih lanjut, Eko menambahkan dinamika geopolitik global dan volatilitas harga energi turut memengaruhi pendekatan underwriting industri reasuransi. Proses penutupan polis kini menjadi lebih selektif dengan waktu negosiasi lebih panjang akibat evaluasi risiko yang lebih rigid serta keterbatasan kapasitas reasuransi global.

Namun, kondisi tersebut juga dinilai membuka peluang bisnis baru. Tugure melihat meningkatnya kebutuhan optimalisasi program reasuransi dari perusahaan asuransi nasional serta proyek-proyek energi domestik masih menjadi sumber pertumbuhan bisnis baru.

Baca Juga: Klaim Reasuransi Tugure Turun 10% pada Kuartal I-2026

Menurut Eko, lini bisnis energi masih memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan premi perusahaan. Ia menyebut pertumbuhan premi perusahaan masih menunjukkan tren ekspansif dengan pertumbuhan tahunan rata-rata mencapai double digit pasca pemulihan 2021.

Sementara itu, untuk menjaga profitabilitas di tengah volatilitas pasar energi, Tugure menerapkan strategi underwriting yang prudent dan selektif, memperkuat manajemen risiko, serta melakukan penyesuaian pricing sesuai profil risiko.

Selain itu, perusahaan juga memperkuat kapasitas analisis risiko dan menjalin kolaborasi dengan mitra reasuransi global untuk menjaga kualitas portofolio bisnis.

Sebagai gambaran, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi reasuransi per Maret 2026 sebesar Rp 7,62 triliun atau turun 1,43% secara year on year (YoY). Penurunan juga terjadi pada lini energi onshoresebesar 17% YoY menjadi Rp 30 miliar. Sementara premi energi offshore turut mengalami penurunan secara tahunan.

Baca Juga: Tugure Nilai Gejolak Geopolitik Bisa Berdampak terhadap Industri Reasuransi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News