KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi potensi peningkatan klaim akibat bencana alam.
Technical Analytic & Development Group Head Tugure Andriansyah mengatakan Indonesia merupakan negara rawan bencana sehingga risiko tersebut telah menjadi bagian dari pemetaan perusahaan dan bukan lagi kejutan dalam bisnis reasuransi. Meski sebelumnya Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memprediksi bencana alam bisa meningkatkan klaim industri asuransi umum, tetapi dampak bencana terhadap industri reasuransi dinilai tidak bisa hanya dilihat dari besaran klaim industri secara keseluruhan.
Baca Juga: Chairul Tanjung Beberkan Alasan Allo Bank (BBHI) Buyback Saham "Yang menentukan apakah industri reasuransi terpukul atau tidak adalah net retention setelah retro," ujarnya kepada Kontan, Kamis (3/9/26). Ia menjelaskan, bencana besar di wilayah dengan nilai pertanggungan padat dapat menekan lapisan
catastrophe excess of loss (CAT XL). Namun, bencana di wilayah dengan
protection gap tinggi belum tentu seluruh kerugian ekonominya menjadi kerugian yang diasuransikan maupun direasuransikan. Oleh karena itu, Andriansyah menilai prediksi peningkatan bencana alam dapat menjadi peringatan dini bagi industri terkait frekuensi dan keparahan klaim. Namun, hal tersebut tidak serta-merta meningkatkan eksposur bersih reasuransi. Dari sisi kapasitas, Tugure menilai struktur proteksi saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang telah dimodelkan, dengan catatan akumulasi risiko per wilayah tetap terkendali dan perusahaan
ceding menerapkan disiplin
underwriting. "Kami siap menahan apa yang memang kami pilih untuk ditahan, dan mentransfer apa yang tidak efisien ditahan di neraca sendiri," katanya Terkait kesiapan menghadapi kemungkinan lonjakan klaim akibat bencana alam, kesiapan dilakukan dengan menetapkan retensi sendiri berdasarkan jenis risiko atau
peril dan wilayah serta ditopang oleh ekuitas dan target solvabilitas internal yang masih ada di atas batas aman. Baca Juga: Allianz Syariah Andalkan Diversifikasi Portofolio di Tengah Volatilitas Pasar Selain itu, program retrosesi disusun berdasarkan skenario
Probable Maximum Loss (PML) dan
Average Annual Loss (AAL), bukan hanya mengacu pada kondisi tahun dengan frekuensi klaim yang rendah. Panel retrosesi tersebut menjadi lapisan perlindungan bagi Tugure untuk tetap menjaga kapasitas dalam menerima risiko dari pasar domestik ketika terjadi bencana besar. Untuk klaim
catastrophe (CAT), Tugure juga memiliki protokol penanganan tersendiri yang mencakup notifikasi cepat dari perusahaan
ceding, proses survei, reserving, hingga
cash call kepada reasuradur retrosesi apabila diperlukan. Mekanisme tersebut ditujukan untuk memastikan proses pemulihan klaim berjalan dan nilai
net incurred tetap terkendali.
Di sisi lain, diversifikasi lini bisnis dan wilayah geografis juga menjadi bagian dari strategi Tugure untuk mencegah satu kejadian mendominasi hasil underwriting secara keseluruhan. Dengan strategi tersebut, Tugure siap menjadi mitra kapasitas bagi perusahaan
ceding lokal dengan mempertahankan risiko yang masih efisien untuk ditanggung sendiri dan mengalihkan risiko puncak melalui retrosesi. Saat ada kejadian tertentu seperti bencana alam, Tugure juga tetap berkomitmen memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan kontrak. Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan Tugure per Juli 2026 jumlah premi neto tercatat sebesar Rp1,04 triliun, sedangkan jumlah beban klaim neto sebesar Rp891,7 miliar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News