Tugure Terapkan Strategi Selektif di Tengah Dinamika Industri Reasuransi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan reasuransi, PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) mengedepankan strategi pertumbuhan premi yang selektif dan berbasis kualitas di tengah dinamika industri reasuransi pada awal tahun ini.

Presiden Direktur Tugure, Teguh Budiman mengatakan, perusahaan berupaya untuk menjaga kualitas dan densitas premi di tengah industri yang kompetitif dengan mengedepankan kinerja perbaikan underwriting.

“Pertumbuhan premi didorong oleh pengoptimalan portofolio bisnis secara lebih selektif dan berfokus pada segmen-segmen yang memberikan margin underwriting lebih baik,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).


Selain itu, Teguh menyebut penguatan posisi perusahaan sebagai reinsurer juga menjadi pendorong, baik melalui bisnis direct maupun jalur broker.

Baca Juga: Premi Asuransi Tertekan, Tugure Waspadai Daya Beli dan Properti Lesu di Tahun 2026

Melansir laporan keuangan Tugure (bukan konsolidasi) di laman resmi perusahaan, pendapatan premi bruto tercatat Rp 477,90 miliar. Angka tersebut menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 519,50 miliar.

Di sisi lain, beban klaim Tugure menunjukkan peningkatan, terutama dipengaruhi oleh kejadian bencana alam berskala besar pada akhir tahun lalu. Meski demikian, perusahaan telah mengantisipasi melalui pencadangan klaim secara prudent.

Menurut Teguh, langkah tersebut merupakan bagian dari penguatan manajemen risiko dan pengelolaan liabilitas, sehingga kondisi keuangan perseroan tetap terjaga di tengah potensi volatilitas klaim.

Baca Juga: Tugure Beberkan Sejumlah Tantangan yang Bisa Pengaruhi Kinerja Investasi pada 2026

Untuk tahun 2026, Tugure menargetkan pertumbuhan premi sekitar 5% secara tahunan dengan tetap menjaga keseimbangan portofolio. Perusahaan akan mengoptimalkan lini bisnis jangka pendek yang lebih profitable serta mengembangkan secara selektif lini kredit, properti, dan engineering.

Selain itu, Tugure juga akan memperkuat bisnis treaty dengan meningkatkan kapasitas penyerapan risiko serta memperkuat peran sebagai lead reinsurer.

Sejalan dengan penerapan PSAK 117, perusahaan menargetkan hasil jasa asuransi yang positif melalui disiplin underwriting yang ketat. Di tengah ketidakpastian global, Tugure juga membidik imbal hasil investasi (ROI) minimal 5% serta menjaga rasio permodalan atau Risk Based Capital (RBC) tetap di atas ketentuan regulator.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pendapatan premi industri reasuransi sebesar Rp 5,84 triliun hingga Februari 2026 atau tumbuh 6,90% secara tahunan (year on year/yoy).

Baca Juga: Tugure Bidik Premi Reasuransi Rp 3,65 Triliun di 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: