Tumbuh Subur, Transaksi Digital Jadi Motor Fee Income Perbankan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Selain mendorong efisiensi biaya, transaksi digital menjadi salah satu sumber pendapatan komisi (fee income) yang kian prospektif. 

Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital perbankan secara nasional tumbuh 40,35% secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 4,67 miliar transaksi per Februari 2026. 

Tren positif tersebut juga dirasakan berbagai bank, misal Bank Tabungan Negara (BTN). Hingga Februari 2026, bank pelat merah ini mencatatkan 53,7 juta transaksi digital, tumbuh lebih dari 57% yoy. Total transaksi tersebut senilai Rp 27,6 triliun atau tumbuh 11% yoy. 


Baca Juga: Penerbitan SBSN Capai Rp 237,9 Triliun, Bank Mandiri Perkuat Peran Jadi Dealer Utama

SEVP Digital Business BTN Thomas Wahyudi menyebut, mayoritas transaksi digital dilakukan melalui aplikasi Bale, dengan layanan yang paling banyak digunakan antara lain transfer BI-FAST, transfer on-us dan off-us, pembayaran QRIS, serta transaksi kebutuhan sehari-hari macam pembelian token listrik, pembayaran air, dan top up e-wallet. 

Dari transaksi digital ini, Thomas mengaku kontribusi terhadap fee income memang positif. Sebagai gambaran, sepanjang 2025 fee income dari transaksi digital tumbuh 12% yoy. 

“Capaian ini menunjukkan bahwa layanan digital tidak hanya mendorong peningkatan volume transaksi, tetapi juga menjadi salah satu sumber pendapatan yang semakin kuat bagi bank, khususnya dari transaksi harian nasabah,” kata Thomas kepada Kontan, Kamis (26/3/2026). 

BTN melihat prospek transaksi digital masih cukup kuat. Hingga akhir tahun ini, bank menargetkan total kisaran 300 juta transaksi digital, dengan total nilai transaksi lebih dari Rp 165,7 triliun.

Untuk mencapai target tersebut, BTN bakal memperkuat fitur dan menyempurnakan layanan, di antaranya dengan mendorong penguatan sistem dan infrastruktur IT. Selain itu, bank juga bakal memperluas ekosistem merchant dan kolaborasi dengan mitra serta melaksanakan program promosi tematik dan berkelanjutan. 

Bank pelat merah lainnya yang merasakan tren serupa adalah Bank Mandiri. Hingga Februari 2026, bank mencatat 738,7 juta transaksi digital melalui aplikasi Livin’, tumbuh 28% yoy. Sejalan dengan itu, fee income bank dari aplikasi ini mencapai Rp 625 miliar atau tumbuh 45,3% yoy. 

Baca Juga: Saham Big Banks Lanjut Melemah di Perdagangan Sesi Pertama Hari Ini (27/3)

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut, pertumbuhan positif ini pada gilirannya turut mendukung efisiensi biaya perseroan, seiring masifnya penghimpunan dana murah. 

Dalam periode yang sama, bank mencatatkan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp 13,7 triliun, tumbuh 9,16% yoy. “Kinerja tersebut didukung oleh semakin aktifnya transaksi nasabah melalui berbagai kanal layanan digital Bank Mandiri,” kata Novita. 

Dari sisi bank swasta, KB Bank mencatatkan 260 juta transaksi digital sepanjang 2025, dengan nilai lebih dari Rp 58 triliun. Capaian itu mencerminkan pertumbuhan lebih dari 46% yoy volume transaksi dan 30% yoy nilai transaksi. 

Presiden Direktur KB Bank Kunardy Lie bilang kontribusi transaksi digital itu terhadap pendapatan bank juga makin signifikan, setara lebih dari separuh fee income KB Bank secara keseluruhan. 

Baca Juga: Yield SBN Masih Bertahan di Level Tinggi, Pasar Dibayangi Risiko

KB Bank juga melihat prospek transaksi digital tetap positif, dengan target pertumbuhan volume dan nilai transaksi yang lebih tinggi di akhir tahun nanti. Itu bakal didorong oleh peningkatan pengguna aktif, perluasan use case, serta penguatan fitur dan ekosistem digital, disertai peningkatan aspek keamanan dan kenyamanan transaksi. 

“Transaksi digital memang terus menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan KB Bank, baik dari sisi layanan nasabah maupun kontribusi terhadap pendapatan,” kata Kunardy. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News