KONTAN.CO.ID - Tumpahan minyak mentah Rusia dari kapal tanker yang kandas di lepas pantai Oman mulai mencapai pesisir. Mengutip
Reuters, sebaran minyak kini diperkirakan telah mencapai lebih dari 2.000 kilometer persegi dan mengancam ekosistem laut. Badan lingkungan Oman mengatakan minyak berpotensi mencemari sekitar 40 kilometer garis pantai di dekat Ras Madraka, termasuk kawasan Pulau Masirah.
Besarnya sebaran tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa insiden ini dapat berkembang menjadi salah satu bencana tumpahan minyak terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Putin Murka, Rusia Ancam Balas jika Eropa Sita Kapal Dagang Bawa 800.000 Barel Minyak Mentah Rusia
Caroline Bezengi merupakan kapal tanker berusia 25 tahun yang membawa sekitar 800.000 barel minyak mentah Rusia. Kapal tersebut kandas pada 30 Juni dan kini mengalami kebocoran di dekat sebuah pulau yang menjadi bagian dari kawasan konservasi laut Oman. Wilayah tersebut merupakan habitat berbagai satwa laut, termasuk paus bungkuk Laut Arab dan Socotra cormorant. Kapal sebelumnya dilaporkan mengalami masalah di lepas pantai Yaman pada 8 Juni. Sumber maritim menyebut insiden itu kemungkinan berkaitan dengan ledakan, meski hingga kini tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab. Perjalanan Caroline Bezengi juga melewati sejumlah wilayah yang tengah dilanda konflik. Kapal tersebut berangkat dari pelabuhan Novorossiysk, Rusia, pada April untuk membawa minyak menuju India. Setelah melewati Terusan Suez pada akhir Mei, kapal berlayar melewati perairan Yaman sebelum akhirnya mengalami masalah dan kandas di lepas pantai Oman.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Gandum Rusia, Operasional Dihentikan Sebaran Minyak Meluas dengan Cepat
Pemerintah Oman sebelumnya menyebut lapisan minyak telah mencakup hampir 400 kilometer persegi pada Senin (10/8). Greenpeace mencatat area terdampak meningkat dari sekitar 45 kilometer persegi pada akhir Juli menjadi 150 kilometer persegi pada awal Agustus. Hanya dalam dua hari, luas sebaran tersebut kemudian meningkat empat kali lipat menjadi sekitar 600 kilometer persegi. Penyebaran minyak ke laut dapat mengganggu habitat berbagai satwa, sementara pencemaran yang mencapai garis pantai berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem pesisir. Dalam skenario terburuk, jumlah minyak yang tumpah diperkirakan dapat mencapai 40-50 juta galon. Skala tersebut disebut berpotensi menyaingi tumpahan minyak Exxon Valdez pada 1989, salah satu bencana pencemaran minyak paling terkenal dalam sejarah.
Baca Juga: Militer Ukraina Serang Kilang Minyak di Orsk, Rusia Operasi Penanganan Menghadapi Hambatan
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengatakan kondisi musim monsun membuat akses menuju kapal menjadi sulit dan turut menunda operasi penyelamatan. Meski demikian, IMO menyatakan rencana kontingensi untuk menangani tumpahan minyak telah disiapkan.
International Oil Pollution Compensation Funds (IOPC Funds) menyatakan tidak akan terlibat dalam biaya pembersihan karena insiden tersebut diperlakukan sebagai "aksi perang", bukan kecelakaan biasa.
Caroline Bezengi juga tidak memiliki asuransi dari perusahaan asuransi Barat yang diakui. Menurut Amos, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan pemasangan boom. Kapal perlu segera distabilkan dan sisa minyak mentah yang masih berada di dalamnya dipindahkan ke kapal lain. Semakin lama proses tersebut tertunda, kondisi tanker akan semakin memburuk.
Baca Juga: Inggris Jatuhkan Sanksi Baru kepada Rusia, Bidik Kapal, Bank, dan Industri Logam