Tunggu Pertemuan Bank Sentral Global, Indeks Dolar Melemah Tipis



KONTAN.CO.ID - LONDON. Dolar AS turun tipis dari level tertinggi 10 bulan pada Senin (16/3/2026), di tengah pertemuan bank sentral dan di bawah bayang-bayang perang AS-Israel di Iran.

Bank sentral seperti Federal Reserve AS, European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan akan mengadakan pertemuan pertama mereka sejak konflik di Timur Tengah dimulai. Pertemuan bank sentral ini akan memberikan gambaran bagi investor tentang bagaimana pembuat kebijakan menilai dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan pertumbuhan.

Indeks dolar bergerak di bawah 100, namun masih dekat dengan puncak 10 bulan pada 100,27 pada Jumat lalu.


Baca Juga: Harga Emas Stabil, Pelemahan Dolar Mengimbangi Pudarnya Harapan Penurunan Suku Bunga

Sejak serangan AS-Israel ke Iran akhir Februari, dolar menguat karena investor mencari aset yang dianggap aman, sementara mata uang utama lain seperti euro terdampak oleh ketergantungan negaranya pada impor minyak. Data mingguan dari regulator pasar AS menunjukkan investor hampir menghapus semua posisi jual terhadap dolar sejak konflik dimulai.

Meski begitu, euro sempat rebound dari level terendah 7,5 bulan dan naik 0,6% menjadi US$ 1,1485, sedangkan sterling naik 0,46% menjadi US$ 1,3284, sedikit di atas level terendah 3,5 bulan yang dicapai Jumat lalu.

“Faktanya, ada pertemuan bank sentral minggu ini membuat pasar cenderung menunggu dulu,” kata Francesco Pesole, ahli strategi mata uang ING. Ia menambahkan upaya Presiden AS Donald Trump untuk membentuk aliansi agar kapal bisa melintas aman di Selat Hormuz juga mendorong pelemahan dolar.

Trump memanggil sekutu untuk membantu mengamankan selat ini dan dikabarkan sedang berdiskusi dengan tujuh negara. Washington bahkan berencana mengumumkan minggu ini kesepakatan beberapa negara untuk mengawal kapal melalui jalur tersebut, menurut The Wall Street Journal.

Harga minyak tetap naik karena ketegangan geopolitik tinggi dan ketidakpastian mengenai kapan perang yang kini memasuki minggu ketiga akan berakhir.

Dolar Australia naik 1% menjadi US$ 0,705 karena ekspektasi kenaikan suku bunga di dalam negeri. Reserve Bank of Australia diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada Selasa, dengan pasar memperkirakan peluang sekitar 72% untuk kenaikan 25 basis poin.

Carol Kong, ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, menyebut pasar kini memperkirakan dua kali kenaikan lagi, satu minggu ini dan satu lagi pada Mei. “Di Australia, inflasi sudah tinggi sebelum konflik Timur Tengah, dan kenaikan harga energi terbaru akan menambah risiko inflasi,” katanya.

Sementara itu, yen Jepang menguat sehingga dolar turun 0,4% menjadi 159,1 yen, meski negara ini sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah. Perang ini juga menimbulkan ketidakpastian terkait pandangan suku bunga Bank of Japan (BOJ).

Baca Juga: Mata Uang Asia Campur Aduk Senin (16/3): Dolar Taiwan dan Peso Filipina Paling Loyo

Naomi Fink, kepala strategi global Amova Asset Management, mengatakan, risiko bagi Jepang bukan hanya harga minyak tinggi, tetapi memburuknya neraca perdagangan akibat biaya energi impor dan logistik, ditambah pelemahan yen dan keterbatasan fleksibilitas kebijakan moneter.

Di tempat lain, dolar Selandia Baru naik 1,2% menjadi US$ 0,584, sedangkan yuan domestik China stabil saat investor menilai data ekonomi terbaru dan negosiasi perdagangan AS-China yang sedang berlangsung