Turki ancam hentikan ekspor terigu ke Indonesia



JAKARTA. Eksportir terigu Turki membantah tuduhan telah melakukan dumping. Mereka kini mengancam akan menghentikan ekspor tepung terigu ke Indonesia bila Pemerintah Indonesia mengenakan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) atas tepung terigu impor 20%.

Turgay Unlu, Ketua Asosiasi Eksportir Produk Gandum, Kacang-kacangan dan minyak sayur Turki meminta Pemerintah Indonesia menghentikan penyidikan  atas tuduhan Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) terhadap mereka.

Sekadar mengingatkan, Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Kementerian Perdagangan pada 24 Agustus lalu melakukan investigasi safeguard atas impor tepung terigu. Saat ini, rekomendasi BMTPS sudah disetujui Menteri Perdagangan dan menunggu persetujuan Menteri Keuangan dan Menteri Perindustrian agar dapat diterapkan. "Kami mengharapkan hal ini tidak sampai ke WTO. Jika safeguard diberlakukan maka ekspor kami ke Indonesia nol," kata Unlu.


Menurut peraturan WTO, negara anggota hanya dapat memberlakukan tindakan safeguard apabila memenuhi empat persyaratan yakni terbuktinya ada peningkatan volume impor, terdapat bukti ada kerugian serius bagi industri dalam negeri secara keseluruhan atau ancaman kerugian yang serius.

Persyaratan lainnya, ada hubungan sebab akibat antara kenaikan impor dan kerugian serius serta muncul perkembangan di luar dugaan. "Kami melihat tak ada satupun dari kriteria ini yang dipenuhi dalam permintaan Aptindo," kata Unlu.

Ekspor tepung terigu Turki ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus menurun. Pada 2010, ekspor tepung terigu Turki ke Indonesia mencapai 800.000 ton. Kemudian pada 2011, ekspornya menyusut lagi menjadi 700.000 ton. Pada 2012, ekspor tepung terigu ditaksir hanya 400.000 ton. "Ekspor tepung terigu Turki pada tahun ini diproyeksikan turun 39% dibandingkan tahun lalu," kata Unlu.

Berdasarkan indikator yang disampaikan Aptindo kepada KPPI Kementerian Perdagangan, kata Unlu, jelas terlihat industri dalam negeri tidak  menderita kerugian akibat impor. "Bahkan sebetulnya kinerja mereka lumayan bagus," ujar dia. Hal ini terlihat dari data penjualan, produksi dan tingkat keuntungannya.

Dari sisi penjualan, Unlu menjelaskan, saat memuncaknya impor di 2010, total penjualan produsen domestik naik 12% dibanding 2009 dan naik  22% dibandingkan 2008. Penjualan industri domestik secara umum cenderung naik.  "Dan pada 2011 mencapai puncaknya," papar dia.

Dari sisi produksi, ketika impor memuncak, produksi domestik pada 2010 justru tumbuh 12% dibandingkan tahun sebelumnya dan naik 23% dari 2008. "Di tingkat keuntungan, pada 2010, produsen domestik mencatatkan pertumbuhan keuntungan 35% dari tahun sebelumnya dan 73% dari 2008," kata Unlu.

Fakta lain yang membuat tuduhan dumping ini dianggap tak tepat adalah produksi industri dalam negeri meningkat. Pada 2010, kapasitas produksi industri lokal naik 5% ibandingkan 2009 dan naik 12% dibanding produksi tahun 2008. Selama 2011, rasio pemanfaatan kapasitas naik 18% ketimbang 2008.

Eksportir Turki juga menyesalkan pernyataan Aptindo yang mengatakan tepung terigu asal Turki berkualitas rendah dan harganya diobral. Padahal ia bilang, Turki mengekspor terigu ke lebih dari 130 negara, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Afrika Selatan dan Norwegia. "Di seluruh dunia, produk tepung Turki dianggap aman dengan harga kompetitif, namun berkualitas tinggi," kata Unlu. Setiap tahun, Turki memproduksi tepung terigu 30 juta ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sandy Baskoro