KONTAN.CO.ID - ANKARA. Turki, Pakistan, Mesir, dan Arab Saudi mengutuk serangan yang dilakukan oleh milisi Houthi Yaman yang didukung Iran terhadap bandara internasional Riyadh, seraya menyebutnya sebagai "eskalasi berbahaya yang tidak dapat dibenarkan atau diterima dengan dalih apa pun". Satu orang tewas dan hampir dua belas orang terluka dalam serangan baru terhadap bandara internasional Riyadh pada hari Minggu, menurut laporan otoritas Saudi. Serangan ini terjadi sehari setelah serangan yang diklaim oleh Houthi yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Baca Juga: Bursa China Melemah, Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Global dan Gejolak Geopolitik Kelompok kekuatan regional tersebut—yang dijuluki R4—menegaskan kembali solidaritas dan dukungan mereka terhadap Arab Saudi, termasuk dukungan penuh atas segala "langkah dan tindakan sah" yang diambil negara itu untuk melawan serangan, menangkal ancaman, dan mencegah terulangnya kejadian serupa. "Kelompok ini menganggap milisi Houthi bertanggung jawab penuh atas akibat dari serangan-serangan ini serta segala dampak lanjutannya yang mengancam perdamaian dan keamanan regional maupun internasional, dan menuntut penghentian segera serta tanpa syarat atas serangan-serangan tersebut," demikian pernyataan bersama mereka pada hari Minggu seperti dilansir
Reuters. Turki, anggota NATO, dan Pakistan, negara pemilik senjata nuklir, menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi pada bulan Agustus. Pakta tersebut menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dianggap sebagai serangan terhadap semua pihak.
Baca Juga: Pasar Saham Asia Bergejolak Jelang Musim Laporan Keuangan, Harga Minyak Turun Pekan lalu, negara-negara tersebut menyatakan kesepakatan untuk melaksanakan komitmen pertahanan kolektif mereka dan memastikan pengerahan cepat pasukan serta kemampuan militer ke Arab Saudi di tengah serangan Houthi. Pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri Hakan Fidan mengatakan bahwa Turki sedang mengkaji cara membantu Arab Saudi, namun menutup kemungkinan pengerahan pasukan maupun partisipasi Turki dalam operasi ofensif. Sehari sebelumnya, para pejabat mengatakan kepada Reuters bahwa Ankara mengirimkan bantuan yang sebagian besar bersifat defensif dan teknis ke Riyadh.
Sejauh ini, dukungan Turki terhadap Arab Saudi sebagian besar bersifat bilateral, mengingat parlemen Turki belum secara resmi meratifikasi pakta pertahanan bersama tersebut.
Baca Juga: Yuan Bertahan Dekati Level Tertinggi 3,5 Tahun Senin (12/10), Dolar AS Masih Perkasa Kesepakatan itu diperkirakan akan diajukan ke parlemen dalam beberapa hari mendatang. Turki, yang memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO serta industri pertahanan yang tangguh, telah memasok peralatan pertahanan kepada Arab Saudi dan sepakat untuk bergabung dengan koalisi pimpinan Saudi guna menjamin keselamatan pelayaran di Laut Merah.