KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring mengalami peningkatan. Meski angkanya masih dalam kondisi terjaga, tetapi makin mendekati ambang batas aman ketentuan OJK, yakni sebesar 5%. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, angka TWP90 per April 2026 tercatat sebesar 4,62%, atau meningkat dari posisi Maret 2026 yang sebesar 4,52% dan posisi April 2025 yang sebesar 2,93%. Kenaikan TWP90 industri tersebut ternyata juga dibarengi dengan bertambahnya jumlah penyelenggara fintech lending yang memiliki angka TWP90. OJK mencatat, terdapat 19 penyelenggara fintech lending yang memiliki TWP90 di atas 5% per April 2026, atau jumlahnya bertambah 3 penyelenggara jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 16 penyelenggara.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menerangkan kenaikan angka TWP90 dan jumlah penyelenggara dengan TWP90 di atas 5% dipengaruhi sejumlah faktor.
Baca Juga: Spin-Off UUS Perlu Terukur, Bukan Hanya Berdasarkan Aset Rp 50 Triliun "Faktornya, yakni kualitas pembiayaan dan kemampuan bayar borrower," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Minggu (7/6). Oleh karena itu, Agusman menyampaikan industri fintech lending perlu melakukan sejumlah upaya guna menekan angka TWP90 agar tetap terjaga. Dia bilang upayanya, yaitu melakukan penguatan manajemen risiko, credit scoring berbasis data, serta penguatan penagihan, dan prinsip kehati-hatian. "Dengan demikian, penyaluran pembiayaan lebih selektif dan prudent, serta menjaga pelindungan konsumen," ujarnya. Di tengah kondisi perekonomian yang dinamis saat ini, Agusman memperkirakan TWP90 industri ke depannya tetap terjaga. Dia tak memungkiri bahwa dinamika perekonomian saat ini tentu saja dapat memengaruhi laju pertumbuhan. "Namun, pembiayaan industri pindar ke depan diperkirakan masih dapat tumbuh positif dan terjaga," ungkapnya. Asal tahu saja, OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 102,07 triliun per April 2026. Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 26,11% secara Year on Year (YoY). Sementara itu, Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpendapat pelemahan daya beli dan dinamika perekonomian menjadi faktor utama meningkatnya TWP90 industri pindar. Dia menyebut TWP90 yang meningkat tak terlepas dari kondisi para borrower yang meminjam pada Januari 2026. Dia bilang persoalan inflasi meningkat pada bulan ke-3 dan 4 hingga ekspektasi ekonomi yang melemah menjadi pemicu kualitas pembiayaan memburuk.
Baca Juga: OJK: Ada 5.832 Pemohon Restitusi Perkara Dana Syariah Indonesia via LPSK "Dengan demikian, spending masyarakat yang tertahan dan uang yang berputar mengalami gangguan. Akibatnya, dari sisi kemampuan bayar borrower juga terganggu. Oleh karena itu, tidak heran, TWP90 posisi April 2026 makin memburuk," katanya kepada Kontan, Jumat (5/6). Lebih lanjut, Nailul menyampaikan industri fintech lending perlu terus mewaspadai pertumbuhan pembiayaan yang masih tinggi. Jika tak dikelola dengan baik, bukan tak mungkin bisa berbalik arah menjadikan pembiayaan yang disalurkan kepada borrower tersebut menjadi macet, sehingga menaikkan angka TWP90 industri ke depannya. Ditambah, masih adanya kondisi dinamika perekonomian sejauh ini yang bisa memengaruhi kemampuan bayar borrower. Oleh karena itu, Nailul berpandangan sudah saatnya industri fintech lending untuk mengerem penyaluran pembiayaan, agar bisa mengedepankan kualitas dibandingkan kuantitas. Hal itu perlu dilakukan untuk menekan angka TWP90 agar tak meningkat. "Saya melihat angka TWP90 bisa lebih tinggi lagi, mengingat tuas rem penyaluran masih belum ditarik. Dalam keadaan yang memburuk, lebih baik mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas," ucap Nailul.
Baca Juga: OJK: Masih Ada Fintech Lending Belum Penuhi Ketentuan Ekuitas Rp 12,5 Miliar Dari sisi penyelenggara, fintech lending PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) menyampaikan penyaluran pembiayaan akan mengikuti dinamika perekonomian. Founder dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan hal itu perlu dilakukan untuk menjaga kualitas pembiayaan perusahaan. "Kami menyeluruhkan juga menyesuaikan dengan kondisi ekonomi. Jadi, kalau kondisi ekonominya mendukung, kami akan menyeluruhkan lebih banyak. Sebaliknya, kami juga dorong untuk menahan diri. Kami juga melihat kondisi UMKM-UMKM yang didanai kami," ungkapnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026). Namun, Andi berharap kondisi perekonomian baik-baik saja sehingga bisnis UMKM tetap berjalan. Dengan demikian, Amartha tetap bisa terus mendukung pembiayaan untuk sektor UMKM. Selain kondisi perekonomian, dia juga menerangkan Amartha perlu mempertimbangkan sejumlah aspek dalam menyalurkan pembiayaan. Salah satunya menerapkan selektivitas dalam membayai sektor UMKM. Jika benar-benar terdampak dinamika perekonomian dan menghambat bisnis mereka, Amartha kemungkinan tak akan menaikkan plafon pinjaman untuk UMKM tersebut. "Misalnya, ekonomi di luar Jawa itu agak terkontraksi, sehingga mau dinaikkan modalnya 20%-30% juga tidak gampang karena usahanya tak berkembang," ungkapnya. Andi mengatakan Amartha akan terus melihat peluang yang ada dalam menyalurkan pembiayaan, termasuk permintaan dari masyarakat dan wilayah yang punya pasar baru. Adapun Amartha tercatat, menyalurkan pembiayaan produktif lebih dari Rp 47 triliun sampai akhir Mei 2026 kepada 4 juta UMKM di Indonesia. Berdasarkan data di situs perusahaan, fintech Amartha mencatatkan Tingkat Keberhasilan Bayar (TKB90) sebesar 95,14%.
Baca Juga: OJK: Ada 8 Penyelenggara Fintech Lending yang Masuk Dalam Pengawasan Khusus Sementara itu, fintech lending PT Info Tekno Siaga (Adapundi) menerapkan sejumlah upaya untuk menjaga kualitas pembiayaan, sehingga TWP90 tetap terkendali. Direktur Operasional Adapundi Minerva Agustiani menyampaikan Adapundi menerapkan upaya pengelolaan risiko yang ketat, proses underwriting yang lebih selektif, serta penguatan edukasi kepada nasabah.
"Ditambah, melakukan penyesuaian kebijakan sesuai regulasi yang berlaku," ucapnya kepada Kontan. Minerva menyampaikan perusahaan akan terus beradaptasi dengan perkembangan industri dan ketentuan regulasi yang berlaku guna menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat, stabil, dan berkelanjutan. Terkait kinerja, Adapundi mencatatkan penyaluran pembiayaan tercatat bertumbuh 5% per Maret 2026, jika dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sayangnya, tak disebutkan nilai yang dibukukan. Minerva hanya mengatakan ada sejumlah faktor yang memengaruhi pertumbuhan pembiayaan perusahaan tersebut. Adapun fintech Adapundi mencatatkan tingkat TWP90 sebesar 0,17% per 7 Juni 2026. (*) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News