KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) meningkat pada Juli 2026. TWP90 tercatat sebesar 4,32%, naik dari 4,26% pada Juni 2026. Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik Djafar mengatakan, kenaikan TWP90 terjadi di tengah pertumbuhan pembiayaan industri yang masih cukup tinggi.
Baca Juga: LPS Usulkan Empat Aspek Utama Desain Program Penjaminan Polis Menurut dia, kondisi perekonomian, baik domestik maupun global, turut memberikan pengaruh terhadap kemampuan penerima pinjaman dalam memenuhi kewajibannya. “
Growth-nya juga naik. Keadaan ekonomi domestik maupun global juga memang ada pengaruh,” ungkap Entjik saat ditemui seusai acara Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026). Selain kondisi ekonomi, pelemahan daya beli masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kredit macet. Entjik berharap perbaikan kondisi perekonomian ke depan dapat membantu mengurangi tekanan terhadap kualitas pembiayaan industri pindar. Untuk menekan risiko kredit macet, Entjik mengatakan pelaku industri terus melakukan penguatan proses penyaluran pembiayaan. Salah satunya melalui perbaikan sistem
credit scoring untuk meningkatkan kemampuan dalam menilai profil dan kemampuan bayar calon penerima pinjaman.
Baca Juga: Ini Respons APPI Terkait Aksi Merger Oto Multiartha dan Summit Oto Finance Industri juga didorong untuk lebih konservatif dan selektif dalam menyalurkan pembiayaan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi sejumlah tantangan. Di sisi lain, pertumbuhan pembiayaan fintech P2P lending masih mencatatkan laju yang cukup tinggi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp105,63 triliun pada Juli 2026. Nilai
outstanding tersebut tumbuh 24,76% secara tahunan (year on year/yoy). Dengan pertumbuhan pembiayaan yang masih tinggi tersebut, pengelolaan risiko menjadi salah satu perhatian industri agar ekspansi pembiayaan tidak diikuti peningkatan kualitas kredit bermasalah secara berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News