UAE berdamai dengan Israel, Arab Saudi siap mengikutinya. Ini syaratnya



KONTAN.CO.ID - Riyadh. Arab Saudi merespon kebijakan Uni Emirat Arab yang memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel. Arab Saudi menyatakan belum akan mengikuti langkah Uni Emirat Arab untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel meskipun ditekan pemerintah Amerika Serikat.

Arab Saudi menyatakan, mereka tak akan menggelar kesepakatan apa pun dengan Israel jika tak melakukan perjanjian damai bersama Palestina. Pernyataan Riyadh itu merespons langkah Uni Emirat Arab yang pada pekan lalu memutuskan melakukan pemulihan hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.

Kepada awak media di Berlin, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan "perdamaian harus dicapai oleh rakyat Palestina".


Baca juga: Tupperware promo Agustus 2020, bagi yang membutuhkan kotak bekal makanan

Menurut Pangeran Faisal, cara itu merupakan dasar dari perjanjian internasional terkait pemulihan relasi diplomatik dengan Israel. "Jika (perdamaian) itu tercapai, maka segalanya bakal menjadi mungkin," kata dia seperti diberitakan kantor berita AFP Rabu (19/8/2020).

Pada pekan lalu, publik terkejut ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan perjanjian damai antara Tel Aviv dengan Uni Emirat Arab (UEA). Perjanjian dengan UEA itu merupakan yang ketiga antara Israel dengan negara Arab, setelah dua lainnya adalah Yordania dan Mesir.

Kesepakatan pemulihan relasi itu kemudian memunculkan prospek adanya perjanjian serupa dengan negara Teluk yang mendukung Barat. Hingga saat ini, Arab Saudi masih diam.

Namun, diyakini mereka tak bakal terburu-buru mengikuti langkah UEA meski ditekan oleh Washington. Dalam konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, Pangeran Faisal mengkritik "kebijakan sepihak" dari Tel Aviv.

Dia merujuk kepada pembangunan permukiman di Tepi Barat. Langkah yang dianggap sebagai "ilegal" dan "merusak" solusi dua negara. Sebagai bagian dari kesepakatan dengan Abu Dhabi, Tel Aviv sepakat untuk menunda deklarasi permukiman mereka di Tepi Barat. Meski, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa rencana tersebut tidak dikeluarkan dari mejanya di masa mendatang.

Baca juga: Terlaris pada Juli, harga mobil bekas Fortuner cukup murah mulai Rp 110 juta

Palestina jelas memprotes langkah tersebut, karena dianggap mengkhianati negara Arab lain bahwa pemulihan dengan Israel terjadi jika solusi damai diterapkan. Pangeran Faisal mengakui, pada 2002 Arab Saudi sempat menjadi sponsor inisiatif damai Arab, berisi upaya pemulihan relasi dengan Israel. Namun kini, dia menegaskan bahwa langkah menuju normalisasi tidak akan terjadi sebelum perdamaian dengan Palestina tercapai.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tanpa Perdamaian Palestina, Arab Saudi Tak Bakal Gelar Kesepakatan dengan Israel",

Penulis : Ardi Priyatno Utomo Editor : Ardi Priyatno Utomo

Editor: Adi Wikanto