UE dan AS Dekati Kesepakatan Strategis Mineral Kritis, Kurangi Ketergantungan China



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat dilaporkan semakin mendekati kesepakatan untuk mengoordinasikan produksi dan pengamanan mineral kritis. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok global sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap China.

Mengutip laporan Bloomberg, kesepakatan potensial tersebut mencakup berbagai insentif, termasuk jaminan harga minimum yang berpotensi menguntungkan pemasok non-China. Skema ini diharapkan mampu mendorong diversifikasi sumber pasokan mineral penting di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Selain itu, UE dan AS juga akan memperkuat kerja sama dalam hal standar industri, investasi, serta proyek bersama di sektor mineral kritis. Kedua pihak juga berencana meningkatkan koordinasi dalam menghadapi potensi gangguan pasokan dari negara-negara produsen utama seperti China.


Meski demikian, Komisi Eropa menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut, sementara kantor Perwakilan Dagang AS belum memberikan tanggapan resmi.

Dorongan Kerja Sama dan Negosiasi Lanjutan

Komisioner Perdagangan UE Maros Sefcovic sebelumnya menyampaikan bahwa ia telah menggelar pertemuan yang “sangat positif” dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Maret lalu. Pertemuan tersebut berlangsung di sela-sela forum World Trade Organization di Kamerun.

Baca Juga: Kilang China Borong Minyak Iran dengan Harga Premium, Tren Harga Global Berubah

Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat untuk mempercepat kerja sama di sektor mineral kritis, sekaligus membahas isu tarif perdagangan.

Cakupan Kesepakatan Menyeluruh

Kesepakatan UE-AS ini disebut akan mencakup seluruh rantai nilai mineral kritis, mulai dari eksplorasi, ekstraksi, pengolahan, pemurnian, hingga daur ulang dan pemulihan. Pendekatan ini bertujuan menciptakan sistem pasokan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Langkah ini juga mencerminkan meningkatnya perhatian negara-negara Barat terhadap keamanan pasokan mineral strategis, yang menjadi komponen penting dalam industri teknologi tinggi, energi bersih, dan pertahanan.

Selama ini, China mendominasi rantai pasok mineral tanah jarang (rare earth) global. Kondisi tersebut mendorong Amerika Serikat untuk mempercepat akses terhadap cadangan mineral kritis di berbagai wilayah dunia.