UEA Keluar dari OPEC dan OPEC+, Guncang Pasar Energi Global di Tengah Perang Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ pada Selasa. Langkah ini menjadi pukulan besar bagi aliansi negara pengekspor minyak tersebut serta pemimpin de facto-nya, Arab Saudi, di tengah gejolak perang Iran yang memicu guncangan energi global dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Keputusan mengejutkan dari UEA—anggota lama OPEC—berpotensi menciptakan ketidakstabilan internal dan melemahkan soliditas organisasi yang selama ini berupaya menampilkan persatuan, meski kerap diwarnai perbedaan pandangan terkait geopolitik hingga kuota produksi minyak.


Di sisi lain, produsen minyak Teluk yang tergabung dalam OPEC juga menghadapi tantangan besar dalam menyalurkan ekspor energi. Hal ini disebabkan gangguan di Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.

Ancaman dan serangan terhadap kapal oleh pihak Iran telah memperburuk situasi distribusi energi global.

Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$110, Pasar Global Cermati Kebuntuan Konflik Iran

Keluarnya UEA dari OPEC dinilai sebagai kemenangan bagi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya menuding organisasi tersebut “merugikan dunia” dengan menaikkan harga minyak.

Trump juga mengaitkan dukungan militer AS di kawasan Teluk dengan harga energi, dengan menyatakan bahwa negara-negara anggota OPEC “memanfaatkan perlindungan tersebut dengan menetapkan harga minyak yang tinggi”.

Langkah UEA ini terjadi setelah negara tersebut mengkritik respons negara-negara Arab lainnya yang dinilai tidak cukup melindungi UEA dari serangan Iran selama konflik berlangsung. Sebagai salah satu pusat bisnis regional dan sekutu penting Washington, UEA merasa kurang mendapat dukungan memadai dari mitra kawasan.

Penasihat diplomatik Presiden UEA, Anwar Gargash, menyampaikan kritik tersebut dalam forum Gulf Influencers Forum pada Senin.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 3% Selasa (28/4), Seiring Kebuntuan Konflik Iran-AS Berlanjut

"Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk saling mendukung secara logistik, tetapi secara politik dan militer, saya menilai posisi mereka merupakan yang paling lemah sepanjang sejarah," ujar Gargash.

"Saya memperkirakan sikap lemah ini dari Liga Arab dan saya tidak terkejut karenanya, tetapi saya tidak mengharapkannya dari Dewan Kerja Sama (Teluk) dan saya justru terkejut," lanjutnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan di dalam kawasan Teluk, yang berpotensi memperdalam fragmentasi geopolitik dan berdampak pada stabilitas pasar energi global di tengah krisis yang sedang berlangsung.