KONTAN.CO.ID - Perseteruan antara dua badan sepak bola terbesar dunia, FIFA dan UEFA, kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Konflik yang sudah berlangsung selama satu dekade kini mencapai titik krusial, terutama setelah gagalnya rencana
FIFA Forward Enterprise (FFE). Perseteruan ini juga melibatkan langsung dua tokoh utama, Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden UEFA Aleksander Ceferin.
Baca Juga: Bos LaLiga Javier Tebas Kritik FIFA: Era Infantino Harus Berakhir UEFA Minta Anggota Tarik Dukungan ke Infantino
Setelah rencana FFE gagal, UEFA mengambil langkah tegas. Mereka meminta negara-negara anggotanya untuk menarik dukungan terhadap Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA. Dalam pernyataan resminya, UEFA juga membuka kemungkinan langkah hukum. Laporan
ESPN menyebut UEFA telah mengirim surat permintaan pelestarian dokumen kepada Infantino, guna mencegah penghapusan bukti jika gugatan diajukan. Pada 10 Agustus, UEFA bersama AFC dan CONCACAF merilis surat terbuka yang menuding FIFA telah melanggar kepercayaan. “Proposal tersebut sejak awal sudah keliru. Tidak ada pengakuan bahwa upaya menjual kepentingan dalam Piala Dunia merupakan kesalahan besar dalam penilaian," bunyi pernyataan itu.
Baca Juga: UEFA, AFC dan CONCACAF Serang Infantino soal Skema Hak Komersial Piala Dunia Perbedaan Kepentingan
FIFA mengandalkan sepak bola internasional, terutama Piala Dunia, sebagai sumber utama pendapatan. Sementara UEFA lebih bertumpu pada kompetisi klub seperti Liga Champions, yang juga menghasilkan pendapatan besar. Kedua pihak sering berebut ruang dalam kalender sepak bola global. Contohnya saat Piala Dunia 2022 dipindahkan ke musim dingin di Qatar, yang membuat jadwal kompetisi klub di Eropa terganggu dan memicu ketegangan. Selain itu, sistem voting di FIFA juga menjadi sumber konflik. Setiap negara memiliki satu suara, tanpa mempertimbangkan kekuatan sepak bola atau kontribusi finansial. Dalam banyak kebijakan, Presiden FIFA Gianni Infantino dinilai lebih mengakomodasi negara berkembang di Afrika dan Asia yang jumlahnya lebih banyak. Misalnya, dalam rencana FFE, FIFA menjanjikan keuntungan finansial besar bagi federasi anggota. Hal ini dinilai lebih menarik bagi negara kecil dibandingkan negara Eropa yang sudah mapan secara finansial.
Baca Juga: FIFA Akhirnya Cairkan Hadiah Timnas Yordania yang Tertunda 8 Bulan Riwayat Konflik UEFA vs FIFA
Berikut beberapa konflik besar dalam satu dekade terakhir: 1. Rencana Kerja Sama dengan SoftBank FIFA sempat menjajaki kerja sama senilai US$25 miliar dengan SoftBank pada tahun 2018 untuk mendanai kompetisi baru, termasuk Piala Dunia Antarklub. UEFA menolak keras rencana tersebut, karena menilai menyebut langkah FIFA sebagai bentuk komersialisasi berlebihan. 2. Wacana Piala Dunia Dua Tahunan FIFA pernah mempertimbangkan menggelar Piala Dunia setiap dua tahun. UEFA langsung menolak. Ceferin mengatakan bahwa lebih banyak kompetisi tidak selalu lebih baik. Ia menilai format tersebut bisa mengurangi legitimasi dan kualitas turnamen. 3. Kontroversi Kartu Merah Balogun UEFA mengkritik FIFA karena membatalkan kartu merah Folarin Balogun di Piala Dunia 2026. UEFA juga menyoroti dugaan campur tangan politik, termasuk lobi dari Presiden AS Donald Trump. 4. Kedekatan Infantino dengan Pemimpin Dunia
UEFA juga menyoroti hubungan dekat Infantino dengan sejumlah pemimpin dunia. Pada Mei 2025, Ceferin bahkan keluar dari rapat FIFA sebagai bentuk protes setelah Infantino datang terlambat karena bertemu Presiden AS. UEFA sangat menyesalkan kejadian itu dan mengindikasikan adanya kepentingan politik pribadi.
Baca Juga: Gianni Infantino Terus Didesak Mundur, 5 Nama Ini Difavoritkan Jadi Presiden FIFA