KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia berpotensi melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini di tengah fluktuasi pasar. Berdasarkan data Trading Economics per Rabu (22/7/2026) pukul 18:43 WIB, harga emas (Gold) menguat 0,88% atau naik US$ 35,95 ke level US$ 4.113,67 per ons troi. Penguatan indikator teknikal serta sokongan permintaan safe haven menjadi pendorong utama logam mulia melaju di zona hijau.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan bahwa pergerakan emas harian mulai menunjukkan pola pembalikan arah menuju tren naik.
Baca Juga: Daya Serap Obligasi Korporasi Masih Kuat, Investor Kian Selektif "Pergeseran arah tersebut terlihat dari terbentuknya pola Double Bottom, salah satu pola pembalikan arah yang kerap menjadi sinyal berakhirnya tren turun," ujar Geraldo dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2026). Selain itu, emas juga sukses menembus Moving Average (MA) 21 yang kini beralih fungsi menjadi
dynamic support. Secara teknikal, pergerakan emas masih aman selama bertahan di atas area support utama US$ 4.060 per ons troi. Apabila area tersebut tetap terjaga, emas diperkirakan bakal menguji level resistance pertama di US$ 4.201 hingga target berikutnya di US$ 4.329 per ons troi. Indikator Stochastic Oscillator juga terpantau terus bergerak naik yang mengonfirmasi dominasi tekanan beli di pasar. Dari sisi fundamental, kecemasan terhadap ketidakpastian ekonomi global mendorong investor terus memburu aset berisiko rendah. Prospek pelonggaran suku bunga Federal Reserve (The Fed) turut memberikan angin segar bagi harga logam mulia.
Baca Juga: Ekspansi Teknologi Topang Prospek Siloam (SILO), Cermati Rekomendasi Analis Geraldo menambahkan bahwa potensi penurunan imbal hasil obligasi AS akan makin menguntungkan posisi emas. "Penurunan imbal hasil obligasi juga akan mengurangi biaya peluang (
opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas," jelasnya.
Meski begitu, pelaku pasar diimbau untuk mewaspadai potensi aksi ambil untung (
profit taking) saat harga mendekati area resistance. Rilis data penting AS seperti inflasi CPI, Non-Farm Payroll, hingga GDP diprediksi dapat memicu volatilitas tinggi. Investor disarankan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko dalam merespons dinamika pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News