LAMPUNG. Heri Susanto tak pernah menyangka bisa menjadi penyuplai gula merah yang berkembang pesat di Lampung Timur. Dengan memiliki 25 agen gula merah dan 250 petani gula merah, Heri mampu menjual sekitar 20 ton gula merah per minggu ke pasar-pasar di Lampung hingga Palembang. Hal ini berbeda kondisi saat ia memulai usahanya pada tahun 1995. Dengan modal yang minim, ia mulai menjadi pengumpul gula merah dari rumah-rumah petani. Dulu, dia mengumpulkan gula merah 50 kilogram (kg)−70 kg seminggu. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai berkembang. Namun, kala itu dia terkendala oleh modal usaha untuk menjaring agen dan petani. Maklum, untuk mendapat agen dan petani, ia harus bisa merogoh kocek besar sebagai modal awal yang diberikan kepada mereka.
UKM di daerah butuh sumber modal (1)
LAMPUNG. Heri Susanto tak pernah menyangka bisa menjadi penyuplai gula merah yang berkembang pesat di Lampung Timur. Dengan memiliki 25 agen gula merah dan 250 petani gula merah, Heri mampu menjual sekitar 20 ton gula merah per minggu ke pasar-pasar di Lampung hingga Palembang. Hal ini berbeda kondisi saat ia memulai usahanya pada tahun 1995. Dengan modal yang minim, ia mulai menjadi pengumpul gula merah dari rumah-rumah petani. Dulu, dia mengumpulkan gula merah 50 kilogram (kg)−70 kg seminggu. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai berkembang. Namun, kala itu dia terkendala oleh modal usaha untuk menjaring agen dan petani. Maklum, untuk mendapat agen dan petani, ia harus bisa merogoh kocek besar sebagai modal awal yang diberikan kepada mereka.