UKM di daerah butuh sumber modal (1)



LAMPUNG. Heri Susanto tak pernah menyangka bisa menjadi penyuplai gula merah yang berkembang pesat di Lampung Timur. Dengan memiliki 25 agen gula merah dan 250 petani gula merah, Heri mampu menjual sekitar 20 ton gula merah per minggu ke pasar-pasar di Lampung hingga Palembang.

Hal ini berbeda kondisi saat ia memulai usahanya pada tahun 1995. Dengan modal yang minim, ia mulai menjadi pengumpul gula merah dari rumah-rumah petani. Dulu, dia mengumpulkan gula merah 50 kilogram (kg)−70 kg seminggu. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai berkembang.

Namun, kala itu dia terkendala oleh modal usaha untuk menjaring agen dan petani. Maklum, untuk mendapat agen dan petani, ia harus bisa merogoh kocek besar sebagai modal awal yang diberikan kepada mereka.


Ia akhirnya mendapat pembiayaan dari salah satu lembaga pembiayaan, yakni PT Sarana Lampung Ventura (SLV) pada tahun 2007. Dengan pinjaman awal Rp 50 juta dan bunga sebesar 12% per tahun serta pendampingan, usaha Heri berkembang pesat. Dia mampu menghasilkan omzet Rp 500 juta−Rp 600 juta per bulan.

Begitu pun Rudiyanto, pemilik PT Bintang Jaya Food (BJF) yang memproduksi makanan ringan di Lampung. Rudi memulai usahanya pada tahun 2005 dengan modal sendiri. Seiring dengan melonjaknya permintaan makanan ringan di Lampung, Rudi berupaya mengembangkan usaha dan meningkatkan kapasitas produksi. Setelah memperoleh modal dari SLV dengan plafon Rp 500 juta pada tahun 2010,kini bisnisnya dengan brand MR Dollar dapat mencetak omzet ratusan juta per bulan.

Dua usaha kecil menengah (UKM) ini merupakan binaan dari PT SLV, salah satu jaringan perusahaan modal ventura daerah (PMVD) di bawah kendali PT Bahana Artha Ventura (BAV). Lampung menjadi salah satu daerah yang mereka sasar. Sektor perdagangan dan hotel menyerap 50% dari total pembiayaan.

Diikuti oleh sektor jasa sosial atau masyarakat, dan selanjutnya sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan. Skala pembiayaannya berkisar dari Rp 50 juta hingga Rp 500 juta.

Menurut Novri Al Hamid, Direktur Utama PT SLV, perusahaannya menyasar kepada UKM yang belum mendapat pembiayaan dari bank. "Tak semua UKM dapat memperoleh dana dari bank secara mudah. Umumnya, usaha mikro dan kecil belum tersentuh bank, sebab jaminan aset belum cukup besar," ujarnya.

Novri menyatakan, potensi pengembangan UKM di Lampung masih besar. Apalagi, Lampung merupakan gerbang utama jalur distribusi dan ekonomi dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatra. Tapi tidak semua usaha rakyat, baik mikro, kecil dan menengah dapat memiliki modal yang besar untuk mengembangkan usahanya. Sementara, pendanaan masih sangat terbatas.           n

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News