KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren kenaikan utang luar negeri (ULN) jangka pendek pemerintah mulai menjadi sinyal yang perlu diwaspadai. Sejumlah ekonom menilai, kenaikan ULN jangka pendek bisa menimbulkan sejumlah risiko. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, lonjakan utang jangka pendek pemerintah maupun swasta dapat mendorong kerentanan likuiditas. "Artinya risiko rollover meningkat. Ini perlu diwaspadai mengingat kondisi global yg masih rentan," ujar David kepada Kontan, Selasa (15/9/2026) Baca Juga: Resmi Digelar IHCBS2026 Buka Era Baru Produktivitas Indonesia Lewat Human Centric AI Sementara, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, kenaikan ULN dengan tenor kurang dari satu tahun dapat meningkatkan risiko refinancing, terutama di tengah suku bunga global yang masih tinggi dan harga minyak yang kembali menembus US$ 100 per barel. Untuk diketahui, Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan ULN pemerintah jangka pendek atau dengan tenor hingga satu tahun mengalami kenaikan cukup signifikan dalam setahun terakhir. ULN pemerintah jangka pendek tercatat sebesar US$ 18,54 miliar pada Juli 2026, naik 36,52% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Juli 2025 yang sebesar US$ 13,58 miliar. Jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025, ULN pemerintah jangka pendek juga meningkat 25,10% dari US$ 14,82 miliar. Sementara itu, ULN pemerintah jangka panjang pada Juli 2026 tercatat sebesar US$ 199,85 miliar, meningkat tipis 0,90% yoy dari US$ 198,07 miliar pada Juli 2025. Secara year to date (YtD), ULN pemerintah jangka panjang naik 0,20% dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar US$ 199,45 miliar. Dengan demikian, total ULN pemerintah pada Juli 2026 mencapai sekitar US$ 218,4 miliar, tumbuh 3,2% yoy. Angka tersebut meningkat dari sekitar US$ 211,66 miliar pada Juli 2025 dan naik dari sekitar US$ 214,27 miliar pada Desember 2025. Berbeda dengan pemerintah, ULN swasta justru mengalami penurunan secara total. Posisi ULN swasta pada Juli 2026 tercatat sebesar US$ 194,48 miliar, turun 1,16% yoy dari US$ 196,76 miliar pada Juli 2025. Secara YtD, posisi tersebut turun 0,46% dibandingkan Desember 2025 yang sebesar US$ 195,37 miliar.
ULN Jangka Pendek Pemerintah Naik 36%, Ekonom Ingatkan Risiko Refinancing
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren kenaikan utang luar negeri (ULN) jangka pendek pemerintah mulai menjadi sinyal yang perlu diwaspadai. Sejumlah ekonom menilai, kenaikan ULN jangka pendek bisa menimbulkan sejumlah risiko. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, lonjakan utang jangka pendek pemerintah maupun swasta dapat mendorong kerentanan likuiditas. "Artinya risiko rollover meningkat. Ini perlu diwaspadai mengingat kondisi global yg masih rentan," ujar David kepada Kontan, Selasa (15/9/2026) Baca Juga: Resmi Digelar IHCBS2026 Buka Era Baru Produktivitas Indonesia Lewat Human Centric AI Sementara, Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, kenaikan ULN dengan tenor kurang dari satu tahun dapat meningkatkan risiko refinancing, terutama di tengah suku bunga global yang masih tinggi dan harga minyak yang kembali menembus US$ 100 per barel. Untuk diketahui, Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan ULN pemerintah jangka pendek atau dengan tenor hingga satu tahun mengalami kenaikan cukup signifikan dalam setahun terakhir. ULN pemerintah jangka pendek tercatat sebesar US$ 18,54 miliar pada Juli 2026, naik 36,52% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Juli 2025 yang sebesar US$ 13,58 miliar. Jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025, ULN pemerintah jangka pendek juga meningkat 25,10% dari US$ 14,82 miliar. Sementara itu, ULN pemerintah jangka panjang pada Juli 2026 tercatat sebesar US$ 199,85 miliar, meningkat tipis 0,90% yoy dari US$ 198,07 miliar pada Juli 2025. Secara year to date (YtD), ULN pemerintah jangka panjang naik 0,20% dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar US$ 199,45 miliar. Dengan demikian, total ULN pemerintah pada Juli 2026 mencapai sekitar US$ 218,4 miliar, tumbuh 3,2% yoy. Angka tersebut meningkat dari sekitar US$ 211,66 miliar pada Juli 2025 dan naik dari sekitar US$ 214,27 miliar pada Desember 2025. Berbeda dengan pemerintah, ULN swasta justru mengalami penurunan secara total. Posisi ULN swasta pada Juli 2026 tercatat sebesar US$ 194,48 miliar, turun 1,16% yoy dari US$ 196,76 miliar pada Juli 2025. Secara YtD, posisi tersebut turun 0,46% dibandingkan Desember 2025 yang sebesar US$ 195,37 miliar.
TAG: