KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana penggabungan bisnis PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dengan Frisian Flag Indonesia menjadi perhatian investor. Transaksi tersebut dinilai berpotensi memperbesar skala bisnis ULTJ, tetapi juga membawa risiko dilusi serta tantangan integrasi.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai perbandingan nilai transaksi Frisian Flag Indonesia (FFI) sebesar Rp14,57 triliun dengan ekuitas ULTJ tidak tepat digunakan untuk menentukan pihak mana yang memiliki valuasi lebih besar. Menurut dia, pembanding yang lebih relevan adalah nilai pasar masing-masing perusahaan. "Rp14,57 triliun setara 178% ekuitas ULTJ bukan berarti FFI lebih besar, itu membandingkan nilai transaksi dengan nilai buku. Pembanding yang tepat nilai pasar," kata Wafi kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: Kenaikan Suku Bunga Tekan NAB Reksadana Pendapatan Tetap Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp2.150 per saham, Wafi memperkirakan nilai ULTJ sekitar Rp22 triliun. Dengan demikian, nilai ULTJ masih lebih besar dibandingkan nilai transaksi FFI sekitar Rp14,57 triliun, dengan komposisi sekitar 60% berbanding 40%. Sementara itu, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama melihat FFI memiliki valuasi yang relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan ULTJ berdasarkan multiple laba. Ia menyebut nilai transaksi FFI sekitar Rp14,57 triliun setara dengan sekitar 19 kali annualized P/E berdasarkan kinerja tujuh bulan 2026. Di sisi lain, ULTJ diperdagangkan sekitar 10 kali annualized P/E. "Premium tersebut menurut kami baru akan menarik apabila setelah integrasi terdapat sinergi yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan profitabilitas," ujar Elandry. Dari sisi skala, Wafi memperkirakan nilai gabungan kedua bisnis dapat mencapai sekitar Rp37 triliun. Ia melihat prospek bisnis hasil penggabungan cukup kuat di atas kertas karena menggabungkan posisi ULTJ di segmen susu UHT melalui Ultra Milk dengan bisnis susu kental manis dan susu bubuk milik FFI. Sinergi berpotensi berasal dari pengadaan susu segar, distribusi hingga riset dan pengembangan produk. Selain itu, permintaan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG juga dinilai dapat menjadi salah satu faktor pendukung. Meski begitu, Wafi memperkirakan manfaat sinergi belum akan langsung terlihat. Menurut dia, dampak sinergi baru berpotensi terlihat sekitar satu hingga dua tahun setelah proses integrasi berjalan. Elandry juga menilai transaksi tersebut memberikan tambahan skala, merek, jaringan distribusi, serta portofolio produk bagi ULTJ. Namun, salah satu tantangan yang perlu diperhatikan adalah perbedaan tingkat profitabilitas kedua bisnis. Ia mencatat margin bersih FFI sekitar 5,6%, jauh di bawah margin bersih ULTJ yang mencapai sekitar 19%. Karena itu, kemampuan meningkatkan efisiensi FFI akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kinerja perusahaan setelah penggabungan. Dari sisi dilusi, Wafi memperkirakan sekitar 6,78 miliar saham baru akan diterbitkan dalam skema pemasukan aset FFI. Dengan struktur tersebut, porsi pemegang saham lama ULTJ diperkirakan turun menjadi sekitar 60%, sedangkan FrieslandCampina berpotensi menjadi pengendali dengan kepemilikan sekitar 29% hingga 31%. Menurut Wafi, penurunan porsi kepemilikan tersebut tidak otomatis menjadi kerugian bagi pemegang saham lama karena ULTJ juga memperoleh bisnis FFI. Faktor penting yang perlu diperhatikan adalah kewajaran harga FFI yang dimasukkan ke dalam transaksi. Sementara itu, Elandry menyoroti potensi dilusi dari sisi jumlah saham. Berdasarkan skenario penerbitan maksimal sekitar 7,88 miliar saham baru, jumlah saham ULTJ dapat meningkat sekitar 76% dibandingkan sekitar 10,40 miliar saham yang beredar saat ini. "Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD tentu mengalami penurunan persentase kepemilikan. Namun yang lebih penting bagi investor adalah potensi dilusi EPS, karena FFI diakuisisi pada multiple laba yang lebih tinggi daripada valuasi ULTJ," jelas Elandry. Karena itu, pertumbuhan laba hasil sinergi perlu cukup kuat untuk mengimbangi peningkatan jumlah saham setelah transaksi. Lebih lanjut, Wafi menilai transaksi tersebut berpotensi meningkatkan nilai ULTJ dalam jangka menengah hingga panjang apabila sinergi dapat terealisasi dan FFI tidak dihargai terlalu mahal. Namun, ia mengingatkan bahwa harga saham ULTJ telah naik lebih dari 40% dalam sepekan hingga berada di sekitar Rp2.120 per saham. Dengan posisi tersebut yang sudah mendekati harga pelaksanaan Rp2.150, sebagian sentimen positif dari rencana transaksi dinilai telah tercermin dalam harga saham. Elandry juga melihat potensi peningkatan nilai strategis ULTJ setelah transaksi, terutama melalui skala bisnis yang lebih besar dan posisi yang semakin kuat di industri susu. Namun, kenaikan ukuran perusahaan tidak secara otomatis membuat saham mengalami re-rating. "Pasar kemungkinan akan melihat seberapa cepat sinergi tersebut diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba dan perbaikan margin," kata Elandry. Di sisi risiko, Wafi menyoroti kewajaran valuasi aset FFI, persetujuan Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU karena penggabungan dua pemain besar di industri susu, risiko integrasi, serta kepastian harga mandatory tender offer. Ia belum menetapkan target harga untuk ULTJ. Wafi menyarankan investor tidak mengejar harga saham dan menunggu mendapat kewajaran serta harga tender offer menjelang RUPSLB yang dijadwalkan pada 27 Oktober. Sementara Elandry menilai risiko utama mencakup valuasi akuisisi yang premium, dilusi laba per saham, proses integrasi dua bisnis besar, serta potensi penurunan margin konsolidasi apabila profitabilitas FFI belum dapat ditingkatkan.
Untuk saat ini, Elandry melihat saham ULTJ masih berada dalam area
hold hingga
trading buy. Ia menyebut level Rp2.150 per saham sebagai level penting karena menjadi harga pelaksanaan
rights issue sekaligus acuan harga minimum mandatory tender offer berdasarkan struktur transaksi yang diumumkan. Namun, untuk target harga yang lebih tinggi, Elandry masih menunggu kejelasan kinerja peforma dan realisasi sinergi setelah transaksi berjalan.
Baca Juga: Fundamental Kokoh, Pasar Cermati Konsistensi Bauran Kebijakan BI di RDG Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News