KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau
rights issue kembali marak. Sejumlah emiten menggelar aksi korporasi ini untuk ekspansi, akuisisi hingga penguatan modal.
PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), misalnya, berencana menerbitkan maksimal 7,878 miliar saham baru. Dengan harga pelaksanaan Rp 2.150, ULTJ berpotensi mengantongi dana segar Rp 16,94 triliun. Sekitar 86,01% dana dari
rights issue akan digunakan ULTJ untuk mengambil alih 100% Frisian Flag Indonesia melalui skema
inbreng. Transaksi tersebut membuat FrieslandCampina International Holding menjadi pengendali baru ULTJ.
Skema serupa juga dilakukan oleh, PT DMS Propertindo Tbk (
KOTA) juga menggunakan
rights issue sebagai sumber pendanaan akuisisi. KOTA menyiapkan maksimal 100 miliar saham baru dan menargetkan dana sekitar Rp 4,95 triliun.
Baca Juga: MGLV, BMAS, KOTA dan CBRE Rights Issue, Cermati Rekomendasi Analis Sekitar Rp 4,4 triliun dana dari
rights issue akan digunakan KOTA membeli 99,99% saham PT Art Design Indonesia dan PT Mandirinusa Graha Perkasa. Sementara sisa dana
rights issue digunakan untuk modal kerja, operasional serta pengembangan usaha. Selain itu, ada PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (
MGLV) telah memperoleh persetujuan
rights issue dengan menerbitkan maksimal 285,73 juta saham pada harga Rp 8.880. Lewat aksi korporasi ini, MGLC berpotensi meraup Rp 2,54 triliun untuk ekspansi bisnis data center. Sekitar Rp 668,61 miliar dana MGLV digunakan mengambil alih piutang, sedangkan Rp 1,6 triliun disalurkan sebagai modal kepada dua entitas usahanya untuk pengembangan fasilitas data center di Cikarang dan Batang. Analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menjelaskan
rights issue menjadi alternatif pendanaan ketika biaya dana tinggi karena perusahaan memperoleh ekuitas tanpa tambahan beban bunga. "Yang perlu dilihat investor bukan sekadar besarnya dana, tetapi
quality of proceeds dan kemampuan dana tersebut menghasilkan pertumbuhan laba dan
cash flow yang berkelanjutan ke depan,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: Berencana Akuisisi Anak PTRO, SINI Gelar Rights Issue Jumbo Elandry bilang prospek pasca
rights issue bergantung pada kemampuan emiten mengubah tambahan modal menjadi pertumbuhan laba. Karena itu,
rights issue tidak otomatis menjadi sentimen positif bagi saham. "Kuncinya adalah seberapa cepat tambahan modal tersebut bisa dikonversi menjadi
earnings growth yang nyata. Karena itu,
rights issue tidak otomatis menjadi sentimen positif bagi saham,” tuturnya. Setali tiga uang, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan maraknya
rights issue saat ini lebih banyak didorong ekspansi dan akuisisi, bukan semata-mata memperbaiki neraca emiten.
"Kalau melihat kasus-kasus ini, mayoritas lebih ke ekspansi dan akuisisi, bukan sekadar memperbaiki neraca.
Rights issue juga menarik saat
cost of fund tinggi karena tidak menambah beban bunga,” ucapnya kepada Kontan, Kamis (24/9/2026). Menurut Liza, ULTJ dan MGLV memiliki cerita bisnis berbeda namun menarik dicermati. ULTJ mengandalkan bisnis Frisian Flag yang sudah
established, sedangkan MGLV membawa pertumbuhan agresif dari ekspansi data center.
Baca Juga: Gelar Rights Issue, Energi Mega Persada (ENRG) Berpotensi Raup Dana hingga Rp 4,12 T "MGLV punya pertumbuhan agresif dari kapasitas data center 6 MW menuju 102 MW pada kuartal dua 2027, tetapi punya risiko eksekusi yang juga tinggi. Sementara, ULTJ punya potensi sinergi produk, distribusi dan skala bisnis,” kata dia. Bagi investor ritel, Liza menyarankan untuk mencermati harga dan rasio
rights issue, potensi dilusi,
standby buyer, penggunaan dana, serta kewajaran valuasi aset apabila aksi melibatkan inbreng atau akuisisi. Menurutnya, ,likuiditas perdagangan juga menjadi pertimbangan. Dia mencermati ULTJ relatif lebih aktif, sedangkan MGLV memiliki volume lebih tipis dan tidak konsisten sehingga risiko pergerakan harga perlu diperhatikan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News