KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mampu meraih kenaikan kinerja sepanjang semester I-2026. Menurut laporan kinerja keuangannya, ULTJ meraih penjualan sebesar Rp 5,49 triliun pada semester I 2026, melonjak 34,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 4,08 triliun. Secara rinci, penjualan dari segmen minuman tercatat Rp 5,8 triliun dan makanan Rp 28 miliar. Total penjualan dari kedua segmen tersebut dikurangi biaya eliminasi Rp 336 miliar, sehingga penjualan neto perusahaan mencapai Rp 5,49 triliun.
Dari sisi bottom line, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp1,04 triliun per semester I-2026, melonjak 73,7% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 603,8 miliar.
Baca Juga: Dibayangi Risiko Tekanan Global, Begini Prospek Pergerakan Yield SBN Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama mengatakan kinerja ULTJ pada semester I-2026 ditopang oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu katalis dan memberikan sentimen positif bagi industri pengolahan susu, terlebih ULTJ juga telah menyiapkan investasi fasilitas produksi untuk mendukung program tersebut. Namun, kenaikan kinerja yang signifikan ini tidak semata-mata berasal dari MBG. Penjualan dari pasar komersial reguler, kekuatan brand dan jaringan distribusi, serta permintaan produk dairy yang relatif defensif juga menjadi faktor penting. Di sisi lain, ULTJ mampu meningkatkan efisiensi operasional sehingga pertumbuhan laba bersih jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Penjualan yang meningkat diikuti dengan pengendalian beban usaha dan optimalisasi kapasitas produksi, sehingga terjadi
operational leverage dan margin perusahaan ikut menguat. "Jadi, menurut saya kombinasi pertumbuhan volume, product mix, efisiensi biaya, serta pengelolaan bahan baku menjadi faktor utama yang membuat kinerja ULTJ cukup impresif pada semester I," kata Elandry kepada Kontan, Senin (10/8/2026). Secara terpisah, Head of Research KGI Sekuritas Rovandi berpandangan bahwa MBG bukan faktor utama walau tetap memberi andil. Rovandi juga bilang laba yang tumbuh jauh lebih tinggi dibanding penjualan mengindikasikan bahwa faktor margin dan efisiensi operasional lebih berperan besar, bukan semata-mata kenaikan volume penjualan. Senada, Nafan menilai pertumbuhan laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan menunjukkan adany
a operating leverage dan perbaikan profitabilitas. "Jadi, bukan hanya volume penjualan yang meningkat, tetapi efisiensi biaya dan struktur margin juga memberikan kontribusi terhadap ekspansi laba," tambah Nafan.
Baca Juga: Lima ETF Emas Kompak Menguat pada Perdagangan Perdana Prospek Semester II-2026 Untuk semester II-2026, Elandry masih melihat prospek ULTJ relatif positif, meskipun laju pertumbuhan kemungkinan akan lebih moderat dibandingkan semester I. Hal ini terutama karena adanya
high base effect setelah pencapaian semester I yang cukup tinggi. "Dengan basis yang semakin tinggi, mempertahankan pertumbuhan dalam persentase yang sama akan menjadi lebih
challenging," ujar Elandry. Dari sisi katalis, implementasi MBG yang semakin luas dan bertahap berpotensi memberikan tambahan volume penjualan bagi ULTJ. Apabila realisasi pasokan untuk program tersebut semakin meningkat, maka ini bisa menjadi sumber pertumbuhan baru di luar pasar komersial reguler. Selain itu, kekuatan brand, jaringan distribusi, dan penetrasi pasar yang luas tetap menjadi
competitive advantage ULTJ dalam menghadapi kondisi konsumsi yang masih mixed. ULTJ juga masih memiliki ruang untuk meningkatkan efisiensi melalui optimalisasi kapasitas produksi dan logistik. Jika pertumbuhan volume tetap terjaga sementara biaya operasional dapat dikendalikan,
operational leverage masih berpotensi memberikan support terhadap margin dan profitabilitas. Namun, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah pergerakan nilai tukar rupiah karena sebagian bahan baku, khususnya
skim milk powder, masih bergantung pada impor. Jika rupiah mengalami pelemahan signifikan atau harga bahan baku meningkat, maka gross margin bisa mendapatkan tekanan apabila kenaikan biaya tersebut tidak dapat sepenuhnya diteruskan kepada konsumen. Selain itu, faktor daya beli juga tetap menjadi perhatian. Jika tekanan terhadap
purchasing power berlanjut, konsumen berpotensi melakukan
trading down, misalnya memilih ukuran produk yang lebih kecil atau mengurangi frekuensi pembelian. Risiko lainnya adalah kenaikan biaya distribusi maupun biaya produksi yang dapat membatasi ekspansi margin. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat prospek ULTJ pada semester II-2026 masih positif, meskipun pertumbuhan kemungkinan mulai mengalami normalisasi dibandingkan semester I. Katalis utamanya adalah konsumsi domestik yang berpotensi membaik, keberlanjutan program MBG, inovasi produk, distribusi yang luas, serta posisi ULTJ yang kuat di segmen susu UHT. Menurut Nafan, MBG berpotensi menjadi katalis tambahan karena menciptakan kanal permintaan institusional yang relatif besar.
Rekomendasi Saham Untuk jangka menengah, Rovandi melihat rentang valuasi wajar ULTJ berada di level Rp2.300–2.500 per saham. "Proyeksi harga tersebut berdasarkan dengan asumsi pertumbuhan laba tahun 2026 dapat dipertahankan di atas ekspektasi pasar dan margin tetap terjaga," jelas Rovandi. Adapun Nafan melihat harga saham ULTJ saat ini sudah
overbought. Maka dari itu, ia menyarankan
wait and see saham ULTJ.
Baca Juga: IMPC Perkuat Ekosistem Industri Polimer, Gelontorkan Investasi Rp 250 Miliar Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News