UMKM Asal Kediri Ungkap Alasan Wajib Pakai Dompet Digital dan Dongkrak Penjualan
Rabu, 05 Agustus 2026 11:00 WIB
Oleh: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Beradaptasi dengan teknologi pembayaran digital terkini menjadi kunci utama usaha mikro kecil menengah atau UMKM dalam memperluas pasar. Hal ini dibuktikan oleh Yayuk Sri Rahayu (50), pendiri jenama fesyen ecoprint Swarnabhumi, dan Duwi Sugiharti (42), pemilik jenama kriya D'Craft. Keduanya sukses memadukan konsep keberlanjutan produk dengan transaksi praktis menggunakan dompet digital untuk mendongkrak ekspansi bisnis mereka. Sebelum dikenal sebagai produsen kain ecoprint asal Nganjuk, Jawa Timur, Yayuk mengembangkan usaha pertanian dengan konsep zero waste. Sejak 2015, ia dan timnya berupaya memanfaatkan seluruh sisa hasil pertanian agar tidak ada yang terbuang. Jerami diolah menjadi pakan ternak, kotoran ternak dimanfaatkan sebagai biogas, sementara limbah biogas digunakan kembali sebagai pupuk sawah. Pengalaman tersebut kemudian membawanya untuk menerapkan prinsip keberlanjutan pada industri fesyen. Berbekal ketertarikan terhadap dunia tekstil dan hasil riset yang dilakukannya, Yayuk mulai mempelajari teknik ecoprint pada 2017.
"Saat ketemu konsep ecoprint, sepertinya cocok karena di sekitar kita banyak tumbuh-tumbuhan, apalagi kami kan petani. Jadi saat itu mulai ditekuni untuk belajar ecoprint," ujarnya.
Kontan - Dok/Rahasia. Yayuk Sri Rahayu (50) saat mengikuti bazar di Karya Kreatif Mataraman (KKM) x
Yayuk memanfaatkan berbagai tanaman seperti daun jati, ketapang, eukaliptus, bunga kenikir, dan beragam dedaunan lain yang sebagian besar ditanam sendiri maupun diperoleh dari petani perempuan di sekitar desanya. Pada 2021, ia meluncurkan jenama Swarnabhumi dengan berbagai produk seperti kain, tas, hingga aksesori berbahan ecoprint. Bagi Yayuk, setiap motif bukan sekadar corak, melainkan jejak alam yang menjadi identitas produknya. Semangat serupa juga dimiliki Duwi Sugiharti melalui D'Craft yang dirintis sejak 2019. Setelah mengikuti pelatihan menjahit selama sekitar 40 hari di balai latihan kerja, Duwi memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan koperasi untuk membangun usaha dari rumah agar memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga. Alih-alih menggunakan bahan baru, ia memilih memanfaatkan kain perca yang diperoleh dari pengrajin batik dan warga sekitar. Potongan-potongan kain yang biasanya hanya dijual kiloan tersebut diolah menjadi tas, dompet, taplak meja, sarung bantal, hingga berbagai dekorasi rumah. "Biasanya cari-cari inspirasi lewat buku sampai media sosial. Kain percanya ternyata bisa dijadikan berbagai jenis home decoration, jadi nggak harus melulu seperti tas atau dompet. Pokoknya kita buat jadi kerajinan yang cantik. Sistemnya ATM (amati, tiru, modifikasi). Jadi dipikirkan apa yang perlu dirombak, lalu kami mix and match," tutur Duwi. Bahkan, potongan kain berukuran sangat kecil pun tetap dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Adaptasi digital untuk memperluas pasar Perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Perubahan perilaku belanja masyarakat, terutama sejak pandemi, mendorong Yayuk untuk mulai mengembangkan strategi pemasaran digital. Ia menyadari bahwa mengandalkan penjualan melalui bazar dan pameran saja sudah tidak lagi cukup. "Persaingan semakin ketat, jadi harus adaptasi dengan kebutuhan pelanggan. Misalnya, cara berjualannya, di mana mereka banyak belanja, sampai teknologi digital yang digunakan pelanggan," jelas Yayuk. Berangkat dari kesadaran tersebut, Yayuk mulai memanfaatkan platform e-commerce untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih praktis melalui metode dompet digital seperti ShopeePay. "Persaingan semakin ketat, jadi kita harus adaptasi dengan kebiasaan pelanggan. Sekarang pelanggan inginnya cepat dan simpel. Dengan hadirnya ShopeePay, proses pembayaran di toko online jadi jauh lebih lancar, tanpa perlu repot transfer manual," jelas Yayuk. Pengalaman serupa juga dirasakan Duwi, kehadiran layanan dompet digital seperti ShopeePay juga membantu memberikan kemudahan bagi pelanggan, baik saat bertransaksi secara daring maupun melalui QRIS ketika mengikuti bazar dan pameran. "Saat ikutan pameran atau bazar, dompet digital itu krusial banget. Lewat QRIS ShopeePay, pembeli tinggal scan, bayar, dan selesai. Nggak perlu pusing cari uang kembalian, dan semua catatan transaksi langsung masuk dengan rapi. Pelanggan senang karena banyak promo, kami pun sebagai penjual sangat terbantu," tutur Duwi.
Bagi Yayuk dan Duwi, pertumbuhan usaha bukan hanya tentang peningkatan penjualan, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Swarnabhumi melibatkan ibu-ibu petani di sekitar Nganjuk dalam penyediaan bahan baku tanaman sekaligus proses produksi. Sementara itu, D'Craft menggandeng warga sekitar, termasuk ibu rumah tangga, untuk membantu memenuhi permintaan ketika pesanan meningkat. "Harapannya, usaha ini tentunya berkembang terus, tetapi juga bermanfaat khususnya bagi ibu-ibu di sekitar," tutup Duwi. Kisah Yayuk dari Swarnabhumi dan Duwi dari D'Craft menunjukkan inovasi tidak selalu lahir dari teknologi bermodal dana yang besar. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar yang dipadu dengan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi digital, mereka mampu menunjukkan UMKM mampu menciptakan produk bernilai tambah sekaligus memperluas peluang untuk terus bertumbuh di tengah perkembangan ekonomi digital. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News