UN dihapus, pelajar di Bandung sujud sukur



BANDUNG. Para siswa di Kota Bandung melakukan aksi sujud syukur di Taman Alun-Alun Kota Bandung. Pasalnya, Ujian Nasional (UN) tidak lagi menjadi indikator kelulusan siswa.

"UN itu sangat membebankan, hasil belajar tiga tahun hanya ditentukan tiga hari dengan 20 paket soal yang berbeda," kata Putriana Dwi, salah satu siswa SMAN 9 Bandung, Rabu (28/1).

Padahal, kata dia, pembelajaran setiap sekolah berbeda, maka indikator kelulusannya harus berbeda. Dengan perbedaan indikator kelulusan siswa saat ini, menurutnya akan siswa lebih giat belajar dan matang dalam merencanakan masuk perguruan tinggi.


Ahmad Taufan, Ketua Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Jawa Barat pun menyambut gembira kebijakan Menteri Pendidikan tersebut. "Kita harus mensyukuri perjalanan panjang guru-guru yang keberatan dengan adanya UN, sekarang benar-benar menuai hasil," katanya. Menurut Ahmad, sejatinya FGII dan guru lainnya sudha sejak tahun 2006 lalu mengajukan keberatan dan menggugat pengadaan UN sebagai indikator kelulusan siswa. "Pada 2006 pernah diajukan gugatan ke Mendiknas Bambang Sudibyo, keputusannya dimenangkan tapi kenyataannya UN tetap berjalan," katanya. Demikian halnya saat berganti kepada Muhamad Nuh, kata Taufan pelaksanaan UN tetap ada, dengan indikator tersebut sangat memberatkan siswa SD sampai SMA. Akhirnya banyak fakta dan data terungkap terkait kecurangan pelaksanaan UN dari SD sampai SMA. Namun kebijakan pemerintah Jokowi-JK melalui Menteri Pendidikan Anis Baswedan mengubah UN tidak lagi sebagai penentu kelulusan siswa, tapi pemetaan keberhasilan siswa. "Tahun lalu UN SD sudah tidak menjadi indikator kelulusan, kami bersyukur pada pemerintah sekarang SMP dan SMA juga sama," katanya. Namun menurut dia, dengan perubahan format indikator kelulusan ini tidak berarti membuat siswa bisa bersantai, sebaliknya tetap harus belajar dengan keras untuk masa depannya. "Banyak siswa yang berprestasi dan diterima di PTN dengan jalur undangan gagal karena tidak lulus UN, sekarang harusnya tidak seperti ini lagi," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan