Undisbursed Loan KB Bank Turun 75%, Bos KB Bank: Pipeline Kredit Tetap Kuat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mencatatkan penurunan posisi undisbursed loan hingga Juni 2026. Nilainya tercatat sebesar Rp 2,07 triliun, turun 75,23% dibandingkan Rp 8,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, dinamika undisbursed loan tidak terlepas dari kuatnya pipeline kredit yang telah terbentuk sejak akhir tahun lalu, terutama pada segmen korporasi dan komersial.

Menurutnya, kredit yang telah disetujui tidak seluruhnya langsung dicairkan karena realisasi pembiayaan mengikuti perkembangan proyek dan kebutuhan pendanaan masing-masing debitur.


Baca Juga: Aset Industri Penjaminan Terkoreksi 2,95% pada Mei 2026, Asippindo Ungkap Penyebabnya

"Dinamika undisbursed loan pada dasarnya tidak lepas dari kuatnya pipeline kredit yang terbentuk sejak akhir tahun lalu, terutama dari segmen korporasi dan komersial," ujar Kunardy kepada Kontan.co.id.

Ia menjelaskan, pencairan kredit cenderung dilakukan secara bertahap oleh debitur. Hal tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian jadwal proyek, penyelesaian proses administrasi, hingga kehati-hatian pelaku usaha dalam merealisasikan investasi di tengah dinamika ekonomi global maupun domestik.

Kunardy menambahkan, ketidakpastian ekonomi, baik akibat perkembangan suku bunga global maupun prospek permintaan domestik, juga membuat sebagian pelaku usaha memilih bersikap wait and see sebelum merealisasikan investasi.

Kondisi tersebut menyebabkan adanya jeda waktu antara persetujuan kredit dengan pencairan dana.

"Realisasi pencairan memang cenderung dilakukan secara bertahap oleh debitur," kata Kunardy.

Ia menegaskan, kondisi tersebut tidak mencerminkan melemahnya permintaan kredit. Sebaliknya, pipeline pembiayaan yang telah terbentuk masih menunjukkan potensi pertumbuhan kredit ke depan, hanya saja realisasinya berlangsung secara lebih gradual.

Ke depan, KB Bank akan menjaga likuiditas agar tetap memadai untuk memenuhi kebutuhan pencairan kredit sekaligus mempertahankan struktur pendanaan yang sehat.

Di sisi lain, perseroan akan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit dengan memastikan setiap pencairan dilakukan sesuai risk appetite bank dan kebutuhan riil nasabah.

"Melalui pendekatan tersebut, kami berharap pertumbuhan kredit tetap berkualitas di tengah dinamika pasar yang masih berlangsung," tutup Kunardy.

Baca Juga: Aset Industri Penjaminan Terkoreksi 2,95% pada Mei 2026, Asippindo Ungkap Penyebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News