Undisbursed Loan Perbankan Masih Naik, Bankir Yakin Dalam Tren Melandai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski penyaluran kredit terus meningkat, penarikan fasilitas kredit oleh debitur belum terlalu lancar. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), fasilitas kredit yang belum ditarik alias undisbursed loan masih meningkat 3,99% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1.771,38 triliun.

Bankir optimis, tren ini akan semakin melandai di penghujung tahun seiring meningkatnya permintaan kredit yang sudah meningkat 11,95% per Oktober 2022. Sedangkan kredit yang yang masih mengalami perlambatan berdasarkan data BI ada pada sektor listrik, gas, dan air bersih baik untuk kredit investasi dan kredit modal kerja.

Sedangkan kredit investasi yang mengalami pertumbuhan paling rendah ada di sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan hanya naik 3,8%. Sedangkan, untuk kredit modal kerja tumbuh paling kecil dari sektor pengangkutan dan konstruksi naik hanya 4,2% YoY.


PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencermati menjelang penghujung akhir tahun permintaan kredit di Bank Mandiri terus menunjukkan tren yang positif. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha menyatakan undisbursed loan yang terus menurun hingga akhir Oktober 2022, seiring pemulihan ekonomi.

Baca Juga: Spin Off UUS Tak Lagi Jadi Mandatory UU, Perbankan Menanti Aturan dari OJK

“Tercatat sampai dengan akhir Oktober 2022 undisbursed loan Bank Mandiri telah menurun 7,11% YoY menjadi Rp 188,29 triliun, menurun 7,11%. Ke depan, Bank Mandiri optimis pencairan kredit akan semakin meningkat seiring peningkatan konsumsi dan daya beli masyarakat yang cukup kuat,” ujarnya kepada KONTAN pada Jumat (16/12).

Ia memprediksi trennya akan semakin melandai sejalan keyakinan Bank Mandiri mencapai target pertumbuhan kredit 11% YoY di sepanjang 2022. Terutama pada sektor-sektor yang resiliensi seperti perkebunan maupun industri makanan dan minuman dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB) menyebut penarikan fasilitas kredit yang diberikan dalam dua bulan terakhir dalam tren kenaikan. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi menyatakan permintaan kredit masih bertumbuh, penarikan fasilitas berangsur dilakukan sehingga mengurangi undisbursed loan.

“Meskipun secara tahunan, masih tumbuh 7,89% YoY per Oktober, namun terus melandai. Secara nilai, undisbursed loan BJB jika dibandingkan dengan dua bulan lalu berangsur turun dari Rp 745 miliar menjadi Rp 377,7 miliar, yang didominasi segmen korporasi dan komersial,” jelasnya kepada KONTAN.  

Ia menyatakan BJB mencatatkan pertumbuhan kredit 13,54% YoY per Oktober 2022. Ia optimis permintaan kredit akan terus meningkat didukung oleh kondisi perekonomian yang lebih baik juga konsumsi masyarakat yang meningkat.

Baca Juga: Meski Masih Sedikit, Penyaluran Kredit Perbankan ke UMKM Berorientasikan Ekspor Naik

PT Bank Central Asia Tbk mencatatkan fasilitas kredit yang belum ditarik debitur mencapai Rp 301,4 triliun per Oktober 2022. Merujuk laporan keuangan, nilai itu meningkat 12,43% YoY dari Oktober 2021 sebesar Rp 2668,08 triliun.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyatakan  masih terdapat potensi dalam meningkatkan penyaluran kredit lebih besar seiring dengan pemulihan aktivitas bisnis dari debitur.

“BCA berharap pertumbuhan kredit akan tumbuh di kisaran 8%-10% pada tahun ini, ditopang oleh likuiditas yang masih memadai dan harapan akan pemulihan ekonomi sehingga dapat mendorong permintaan kredit,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari