Uni Eropa Bahas Penguatan Misi Angkatan Laut di Timur Tengah di Tengah Konflik Iran



KONTAN.CO.ID - Para menteri luar negeri negara-negara Uni Eropa dijadwalkan membahas upaya memperkuat misi angkatan laut mereka di Timur Tengah pada Senin (16/3/2026).

Langkah ini dipertimbangkan di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Namun, para diplomat mengatakan pembahasan tersebut kemungkinan belum akan mencakup perluasan operasi misi ke Selat Hormuz yang saat ini mengalami gangguan serius terhadap lalu lintas pelayaran.


Baca Juga: Angkatan Laut UE Bakal Amankan Selat Hormuz yang Terganggu? Jerman Skeptis

Misi angkatan laut Uni Eropa yang dikenal sebagai Operasi Aspides dibentuk pada 2024 untuk melindungi kapal-kapal dari serangan kelompok pemberontak Houthi dari Yaman di Laut Merah.

Saat ini, misi tersebut memiliki satu kapal Italia dan satu kapal Yunani yang berada di bawah komando langsung, serta mendapat dukungan tambahan dari kapal Prancis dan satu kapal Italia lainnya.

Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, Iran disebut mampu menghambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Padahal, jalur pelayaran strategis tersebut merupakan rute bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair (LNG), sehingga gangguan di kawasan itu dinilai sebagai ancaman besar bagi perekonomian global.

Meski demikian, sejumlah pejabat Uni Eropa menyebut pembahasan pada pertemuan di Brussel kemungkinan akan difokuskan pada dorongan dari Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, untuk meningkatkan jumlah kapal yang berpartisipasi dalam misi Aspides.

“Pembahasan pada Senin kemungkinan akan berfokus pada upaya mendorong lebih banyak negara anggota untuk berkontribusi dengan tambahan kapasitas,” kata seorang pejabat senior Uni Eropa yang enggan disebutkan namanya.

Baca Juga: Peringatan CEO Minyak ke Gedung Putih: Krisis Energi Bisa Semakin Memburuk

Jerman Skeptis

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyampaikan keraguan terhadap rencana memperluas misi tersebut hingga ke Selat Hormuz.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi ARD, Wadephul menilai operasi Aspides bahkan belum sepenuhnya efektif menjalankan tugasnya saat ini.

“Itulah sebabnya saya sangat skeptis bahwa memperluas Aspides ke Selat Hormuz akan memberikan keamanan yang lebih besar,” ujarnya.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (14/3) mendesak sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk bergabung dalam upaya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Perusahaan Australia Lynas Teken Kesepakatan Pasok Rare Earth ke AS

Prancis disebut tengah berupaya membentuk koalisi internasional untuk mengamankan selat tersebut setelah kondisi keamanan memungkinkan.

Sementara Inggris juga sedang membahas berbagai opsi dengan sekutu guna menjamin keamanan pelayaran di kawasan itu.

Namun para diplomat menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah Uni Eropa sebagai blok akan terlibat dalam inisiatif tersebut.

Setiap perubahan mandat misi Aspides juga harus mendapat persetujuan dari seluruh 27 negara anggota Uni Eropa.

“Melindungi kapal di Selat Hormuz dalam situasi saat ini adalah keputusan yang tidak akan diambil secara sembarangan oleh para menteri,” ujar seorang diplomat Uni Eropa.