Uni Eropa Siapkan Paket Sanksi Terbesar untuk Rusia pada Musim Gugur



KONTAN.CO.ID - Uni Eropa (UE) berencana memperluas sanksi terhadap Rusia secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan.

Paket sanksi terbaru yang disiapkan pada musim gugur disebut akan menjadi salah satu yang paling luas sejak perang Rusia-Ukraina dimulai.

Baca Juga: Selat Hormuz Makin Sepi, Pelayaran Kapal Anjlok Drastis


Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas mengatakan, sanksi yang telah diterapkan selama ini telah memberikan tekanan besar terhadap Rusia dan mengurangi kemampuan negara tersebut membiayai perang.

"Sanksi UE telah membuat Rusia menanggung biaya yang sangat besar, dengan mengurangi lebih dari €1 triliun (US$ 1,16 triliun) dari mesin perang Rusia," kata Kallas kepada surat kabar Jerman Die Welt, seperti dikutip Reuters, Senin (17/8/2026).

Kallas mengatakan dirinya akan mengusulkan daftar sanksi paling luas sejak awal perang pada musim gugur mendatang.

Jika disetujui, paket tersebut diperkirakan akan meningkatkan jumlah entitas Rusia yang terkena sanksi sekitar sepertiga dari jumlah saat ini.

"Tekanan harus terus meningkat sampai Moskow mengakhiri perangnya," ujarnya.

Namun, Kallas belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai waktu penerapan maupun jenis sanksi yang akan diberlakukan dalam paket terbaru tersebut.

Baca Juga: Ekspor Singapura Melonjak 24,2% pada Juli 2026, Didorong Permintaan AI

Sanksi Terbaru Rusia

UE sebelumnya telah memperketat tekanan ekonomi terhadap Rusia melalui berbagai pembatasan perdagangan, keuangan dan energi sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Pada Juli 2026, UE menyetujui paket sanksi terbaru terhadap Rusia. Paket tersebut antara lain menyasar sektor perbankan dan jaringan mata uang kripto Rusia.

Rencana penambahan sanksi pada musim gugur menunjukkan UE masih berupaya meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Moskow di tengah belum berakhirnya perang Rusia-Ukraina.

Kallas menegaskan, tekanan melalui sanksi akan terus dilakukan hingga Rusia menghentikan perang.

Baca Juga: Ekonomi Jepang Tumbuh 1,1% di Kuartal II, di Bawah Perkiraan