UNICEF: Gaza Jadi Tempat Paling Berbahaya untuk Anak-Anak



KONTAN.CO.ID - Badan anak-anak PBB, UNICEF, mengakui bahwa Jalur Gaza adalah tempat paling berbahaya di dunia untuk menjadi anak-anak. UNICEF menyoroti tingginya korban tewas dari kalangan anak-anak selama konflik meletus pada 7 Oktober lalu.

Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, melaporkan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa ada lebih dari 5.300 anak-anak di Palestina yang kehilangan nyawa sejak 7 Oktober. 

Menurut Russell, tingkat kerugian dari perang di Gaza harus diukur melalui seberapa banyak anak yang kehilangan kehidupannya.


Baca Juga: Menlu Negara Arab dan Muslim Mendesak Perang Gaza Segera Diakhiri

"Jalur Gaza adalah tempat paling berbahaya di dunia bagi anak-anak. Di Gaza, dampak kekerasan yang dilakukan terhadap anak-anak sangatlah besar, tidak pandang bulu dan tidak proporsional," kata Russell, pada pengarahan dewan tentang perempuan dan anak-anak di Dewan Keamanan PBB hari Rabu (22/11).

Sementara itu, Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan menuduh Hamas mengeksploitasi anak-anak di Gaza selama bertahun-tahun. Atas dasar itu, Israel bersumpah untuk memusnahkan Hamas segera setelah gencatan senjata berakhir.

"Jangan salah, segera setelah jeda berakhir, kami akan terus berjuang mencapai tujuan kami dengan kekuatan penuh. Kami tidak akan berhenti sampai kami menghilangkan semua kemampuan teror Hamas," kata Erdan, dikutip Reuters.

Baca Juga: WHO: 3 Rumah Sakit yang Dikepung Israel di Gaza Minta Bantuan Evakuasi Pasien

Israel dan Hamas akhirnya menyetujui gencatan senjata selama empat hari pada hari Rabu. Selama masa itu, pasokan bantuan kemanusiaan akan dimaksimalkan.

Di saat yang sama, Hamas juga harus membebaskan sedikitnya 50 sandera yang ditahan. Israel juga akan membebaskan setidaknya 150 warga Palestina yang dipenjara di Israel.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik perjanjian gencatan senjata ini sebagai sebuah langkah penting ke arah yang benar. Di sisi lain, Guterres juga mengakui bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk mengakhiri konflik.