Unilever Pangkas Bisnis Makanan, Bidik Pertumbuhan Produk Kecantikan dan Perawatan



KONTAN.CO.ID - LONDON. Unilever mempercepat strategi penyederhanaan bisnis dengan mengurangi eksposur terhadap segmen makanan dan mengalihkan fokus ke produk kecantikan, perawatan pribadi, serta kebutuhan rumah tangga.

Langkah tersebut diharapkan dapat mempersempit kesenjangan valuasi dengan perusahaan barang konsumen yang memiliki portofolio lebih terfokus.

Produsen sabun Dove, deodoran Axe, dan produk pembersih Cif tersebut saat ini diperdagangkan pada valuasi 11,5 kali enterprise value terhadap laba inti, berdasarkan data LSEG. Angka itu masih berada di bawah sejumlah perusahaan sejenis, seperti Procter & Gamble sebesar 14,8 kali, L'Oreal 17,5 kali, dan Coca-Cola 22,7 kali.


Perbedaan valuasi tersebut menunjukkan investor memberikan premi kepada perusahaan barang konsumsi dengan fokus bisnis yang lebih jelas.

Namun, strategi Unilever masih menghadapi dua kekhawatiran utama dari investor.

Pada Maret lalu, Unilever menyepakati penggabungan bisnis makanannya dengan produsen rempah asal Amerika Serikat, McCormick. Transaksi tersebut akan membuat Unilever memiliki hampir 10% saham di perusahaan gabungan, sementara pemegang saham Unilever secara keseluruhan akan memiliki sekitar 55% saham perusahaan tersebut.

Pada saat yang sama, transaksi tersebut mengurangi eksposur Unilever terhadap bisnis makanan yang secara historis memiliki margin relatif tinggi. Kondisi ini membuat manajemen menghadapi tekanan lebih besar untuk membuktikan bahwa bisnis kecantikan, perawatan pribadi, dan produk rumah tangga yang tumbuh lebih cepat mampu menggantikan kontribusi bisnis makanan.

"Sampai Anda menunjukkan bukti bahwa Anda berhasil membalikkan keadaan ini, Anda masih berada pada valuasi yang sangat rendah," ujar Dan Hanbury, manajer portofolio di Ninety One, salah satu investor besar di Colgate-Palmolive, Unilever, dan L'Oreal..

Baca Juga: Belanja Global dengan Stablecoin Diproyeksi Tembus US$50 Miliar per Tahun pada 2028

Menurut Hanbury, pasar masih mewaspadai potensi kegagalan dalam proses transformasi perusahaan. Ia menilai Unilever kemungkinan membutuhkan tiga atau empat kuartal dengan pertumbuhan volume yang kuat untuk meyakinkan investor yang masih skeptis.

Belajar dari Strategi Procter & Gamble

Upaya penyederhanaan struktur bisnis sebenarnya bukan strategi baru di kalangan perusahaan besar. Sejumlah perusahaan industri seperti General Electric dan Siemens telah bertahun-tahun merampingkan struktur bisnis untuk menghapus apa yang disebut investor sebagai conglomerate discount, yakni diskon valuasi yang diberikan kepada perusahaan dengan struktur bisnis kompleks karena dinilai dapat menghambat efisiensi dan pertumbuhan.

Pola tersebut semakin banyak diterapkan perusahaan barang konsumsi. Jika diversifikasi sebelumnya dipandang sebagai kekuatan karena dapat melindungi perusahaan dari perubahan selera konsumen, investor kini cenderung menyukai pemimpin di masing-masing kategori yang dapat memusatkan investasi, inovasi, dan pemasaran pada kelompok produk yang lebih terbatas.

Di bawah kepemimpinan CEO Fernando Fernandez, Unilever mempercepat langkah keluar dari bisnis makanan. Perusahaan telah memisahkan bisnis es krimnya dan pada Maret 2026 menyepakati transaksi senilai sekitar US$65 miliar untuk menggabungkan divisi makanan dengan McCormick.

Persoalannya bukan karena bisnis makanan tidak menguntungkan. Segmen tersebut secara historis menghasilkan margin yang menarik, tetapi pertumbuhannya tertinggal dibandingkan bisnis kecantikan dan perawatan pribadi Unilever.

"Berfokus pada satu kategori memungkinkan perusahaan menjadi lebih efisien dalam hal biaya dan lebih inovatif," kata Akeel Sachak, kepala global bisnis konsumen di Rothschild & Co.

Investor kerap menjadikan Procter & Gamble sebagai contoh keberhasilan strategi tersebut. Produsen deterjen Tide itu sebelumnya keluar dari bisnis makanan dan menyederhanakan portofolio mereknya. Setelah restrukturisasi, perusahaan mampu mencatat pertumbuhan yang lebih kuat sekaligus memperoleh premi valuasi selama sebagian besar dekade berikutnya.

"P&G berhasil menjalankan restrukturisasi, mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, dan memperoleh premi valuasi yang relatif lebih tinggi selama sekitar 10 tahun," ujar Hanbury.

Baca Juga: Dolar AS Menguat, Investor Cermati Sanksi Iran dan Imbal Hasil Treasury

Investor Kini Menunggu Bukti Kinerja Unilever

Setelah melakukan serangkaian perubahan portofolio, perhatian investor kini beralih dari aksi korporasi menuju kemampuan Unilever mengeksekusi strategi bisnis barunya.

"Jika Unilever terus menjalankan strateginya dengan baik, Unilever akan terus mengalami peningkatan valuasi hingga tingkat tertentu, dan kemudian diharapkan dapat tumbuh dari sana," Will James, manajer portofolio di Guinness Global Investors yang memiliki saham Unilever dan L'Oreal..

Kinerja Unilever dalam beberapa kuartal terakhir menunjukkan perbaikan. Pada Juli 2026, perusahaan menyatakan pertumbuhan volume penjualannya telah mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Meski terdapat perbaikan operasional, sebagian investor Unilever masih mengkhawatirkan eksposur terhadap kategori makanan yang pertumbuhannya relatif lambat. Kekhawatiran tersebut muncul karena Unilever tetap memiliki kepemilikan pada bisnis hasil penggabungan dengan McCormick, menurut analis Barclays Warren Ackerman.

Unilever menolak memberikan komentar terkait hal tersebut.

Sementara itu, CEO Fernando Fernandez menyampaikan optimisme terhadap prospek strategi perusahaan dalam sebuah acara industri pada Juni lalu.

"Saya percaya bahwa setiap kuartal yang berlalu, ketika kami terus memberikan kinerja seperti yang telah kami capai dan semakin mendekati penyelesaian transaksi dengan McCormick, nilai Unilever akan semakin terlihat," kata Fernandez