Unilever pangkas pemasok kemasan



JAKARTA. Industri kemasan gundah. Kabar yang berhembus menyebut: PT Unilever Indonesia Tbk mengambil kebijakan baru, yakni mengganti pemasok kemasan dari semula perusahaan kemasan lokal menjadi produsen kemasan asing, yakni dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Ariana Susanti, Direktur Pengembangan Bisnis Federasi Pengemasan Indonesia mengatakan, salah satu alasan yang dipakai untuk mengganti mengganti pemasok kemasan ke perusahaan consumer good terbesar itu adalah produsen kemasan lokal kalah efisien dalam menawarkan harga ketimbang produsen kemasan asing.

Catatan Federasi Pengemasan Indonesia itu menyebut, jika tahun 2012, ada 14 perusahaan kemasan lokal yang memasok kemasan untuk kebutuhan Unilever, "Saat ini, tinggal tiga pemasok yang bertahan," ujar Ariana kepada KONTAN, Jumat kemarin (5/6).


Sayang dengan alasan lupa, ia tak bisa menyebut detil identitas perusahaan-perusahaan tersebut. Namun, dari tiga perusahaan besar itu, salah satu yang ia ingat adalah PT Berlina Tbk. Federasi tak tahu persis selisih harga yang ditawarkan perusahaan lokal dibandingkan dengan produsen kemasan asing.

Yang pasti, kata Ariana, industri dalam negeri kalah efisiensi karena bahan baku kemasan yang sebagian besar masih harus impor. Menurut Ariana, pemicu industri kemasan lokal tak mampu bersaing dengan asing antara lain adalah; pertama, kurs rupiah yang terus melemah.

Pelemahan rupiah hingga lebih dari Rp 13.000 membuat biaya impor menjadi mahal. Kedua, ongkos logistik yang mahal; Ketiga kenaikan tarif dasar listrik, Keempat kenaikan harga bahan bakar minyak maupun gas bagi industri.

Terakhir adalah kenaikan upah minimum regional. "Belum lagi, perusahaan asing menggunakan mesin-mesin baru yang bisa menghasilkan produk lebih variatif dan murah," kata dia.

Roberto Bernhardetta, Direktur PT Berlina Tbk mengatakan, saat ini, Berlina masih menjadi salah satu pemasok kemasan untuk Unilever. "Pasokan kami lancar-lancar saja,'' ujar Roberto.

Unilever menjadi salah satu pelanggan terbesar dari perusahaan yang listing di bursa berkode saham BRNA ini. Adapun, pemasok bahan baku detergen juga masih tenang.

Sekretaris Perusahaan PT Unggul Indah Lily Setiadi bilang, Unggul Indah masih lancar memasok bahan baku detergen ke Unilever Indonesia. Namun, porsi penjualan perusahaan ini ke Unilever tak terlalu besar, yakni kurang dari 10%.

Lewat pesan pendek ke KONTAN Sancoyo Antarikso, Sekretaris Perusahaan Unilever tak banyak menjawab pertanyaan KONTAN lantaran tengah rapat. Ia justru mempertanyakan kesulitan yang dialami perusahaan kemasan lokal memasok produknya ke Unilever. "Maksudnya kesulitan apa ya," ujar dia tanpa meneruskan menjawab pertanyaan KONTAN lainnya.

Dalam laporan keuangan PT Unilever disebutkan, pembelian bahan baku dan barang jadi dari pihak berelasi naik. Per 31 Maret 2015 mencapai Rp 187, 08 miliar, naik 33% dari tahun lalu Rp 140,6 miliar. Porsi pemasok terafiliasi ini naik dari 3,47% menjadi 4,84% dari total pembayaran ke pemasok sebesar Rp 6,9 triliun.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Harjanto mengaku akan berupaya mencari alasan mengecilnya jumlah pemasok lokal ke Unilever. "Kami berharap mereka bisa memberdayakan produk dalam negeri," jelas Harjanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto