KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (
UNVR) mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang kuartal I-2026. Berdasarkan kinerja laporan keuangannya, penjualan bersih UNVR tercatat sebesar Rp 8,44 triliun, naik 2,82% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 8,21 triliun. Kenaikan penjualan itu ditopang utamanya oleh segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh senilai Rp 6,04 triliun serta makanan dan minuman menyumbang Rp 2,39 triliun.
Seiring kenaikan penjualan, harga pokok penjualan meningkat menjadi Rp 4,37 triliun dari Rp 4,23 triliun, sehingga laba bruto tumbuh menjadi Rp 4,07 triliun dari Rp 3,97 triliun.
Baca Juga: Unilever Indonesia (UNVR) Buka Suara Soal Kabar Penjualan Lini Bisnis Jus Buavita Namun, tekanan terlihat pada beban operasional. Beban pemasaran dan penjualan turun menjadi Rp 1,64 triliun dari Rp 1,86 triliun, tetapi beban umum dan administrasi naik cukup signifikan menjadi Rp 830,37 miliar dari Rp 665,83 miliar. Alhasil, laba usaha tetap meningkat menjadi Rp 1,57 triliun, dibandingkan Rp 1,44 triliun pada periode sebelumnya. Dari sisi non operasional, penghasilan keuangan melonjak menjadi Rp 37,90 miliar dari Rp 1,91 miliar, sementara biaya keuangan berhasil ditekan menjadi Rp 10,75 miliar dari Rp 25,64 miliar. Dengan demikian, laba sebelum pajak naik menjadi Rp 1,59 triliun dari Rp 1,41 triliun. Setelah dikurangi beban pajak sebesar Rp 341,76 miliar, laba dari operasi yang dilanjutkan tercatat sebesar Rp 1,25 triliun, meningkat dari Rp 1,09 triliun. Kenaikan laba UNVR semakin signifikan dengan adanya kontribusi dari operasi yang dihentikan. UNVR membukukan laba sebesar Rp 887,86 miliar dari segmen ini, yang berasal dari laba penjualan operasi dihentikan sebesar Rp 870,27 miliar serta laba tahun berjalan sebesar Rp 17,58 miliar. Dengan demikian, total laba bersih UNVR melonjak 72,99% menjadi Rp 2,14 triliun per kuartal I-2026, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp 1,24 triliun pada periode yang sama sebelumnya.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyampaikan bahwa kinerja solid PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada kuartal I-2026 ditopang oleh momentum
festive season serta peningkatan kontribusi dari segmen dengan pertumbuhan tinggi, khususnya
health and beauty. Hal ini mendorong pertumbuhan volume sebesar 2,1% pada periode tersebut.
Baca Juga: Porsi Free Float Unilever (UNVR) Belum Capai 15%, Ini Penjelasan Manajemen Selain itu, lonjakan laba bersih kuartal I-2026 juga didukung oleh aksi divestasi bisnis SariWangi yang memberikan tambahan keuntungan non-operasional. Hingga semester I-2026, Harry melihat adanya indikasi pemulihan yang cukup solid dengan prospek pertumbuhan yang moderat, seiring transformasi bisnis yang dilakukan sepanjang 2025. “Kami melihat dengan fundamental yang tetap solid, saham UNVR masih memiliki potensi kenaikan yang cukup menarik,” ujar Harry. Meski demikian, kinerja UNVR tetap menghadapi tekanan dari volatilitas harga bahan baku seperti CPO serta melemahnya daya beli masyarakat. Harry pun merekomendasikan beli saham UNVR dengan target harga Rp 3.000 per saham.
Baca Juga: Unilever Indonesia (UNVR) Buka Suara Soal Kabar Penjualan Lini Bisnis Jus Buavita Sementara itu, secara teknikal, Senior Teknikal Analis Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, menilai pergerakan saham UNVR masih berada dalam tren penurunan dan berpotensi melanjutkan pelemahan, dengan target di level Rp 1.355 hingga Rp 1.000 per saham. Adapun level resistance terdekat berada di Rp 1.690. Berdasarkan tren harga saat ini rekomendasi masih sell, "Setidaknya sampai penurunan mencapai target di Rp 1.355 atau di Rp 1.000," ujar Reyhan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News