KONTAN.CO.ID - Unilever memperingatkan bahwa pertumbuhan penjualan 2026 akan berada di batas bawah dari target jangka menengahnya, menyusul perlambatan pasar di Amerika Serikat dan Eropa. Melansir Reuters Kamis (12/2/2026), produsen sabun Dove dan mayones Hellmann’s itu memperkirakan pertumbuhan penjualan dasar (
underlying sales growth) tahun 2026 berada di kisaran bawah dari panduan multi-tahun sebesar 4%-6%, seiring kondisi pasar yang lebih lunak.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Data Pekerjaan AS Meredam Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed Meski demikian, Unilever memperkirakan adanya perbaikan margin laba menjadi sedikit di atas level 20% yang dibukukan pada 2025. Perusahaan juga mengumumkan program pembelian kembali saham (
share buyback) senilai 1,5 miliar euro (US$1,8 miliar). Saham Unilever tercatat turun sekitar 1% pada perdagangan awal. Ujian Strategi Baru Setelah memisahkan bisnis es krim Magnum menjadi entitas tersendiri pada Desember lalu, CEO Fernando Fernandez yang resmi menjabat pada Maret 2025 kini berada di bawah tekanan untuk membuktikan bahwa fokus perusahaan pada segmen personal care, beauty, dan wellbeing adalah strategi yang tepat.
Baca Juga: China Pangkas Tarif Produk Susu Uni Eropa, Ketegangan Dagang Mulai Melunak? Saat ini, lini bisnis tersebut menyumbang lebih dari separuh total pendapatan Unilever. Analis Barclays sebelumnya menyebut 2026 sebagai “ujian sesungguhnya” bagi Unilever, tanpa distraksi spin-off Magnum maupun pergantian CEO mendadak yang terjadi pada paruh pertama tahun lalu. Pasar Berkembang Jadi Penopang Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan penjualan dasar Unilever mencapai 4,2%, melampaui ekspektasi analis sebesar 3,9%. Pasar berkembang seperti India, Indonesia, dan China tetap menjadi motor pertumbuhan utama. Namun, muncul kekhawatiran bahwa pasar berkembang tidak akan cukup kuat menopang kinerja jika perlambatan di pasar negara maju terus berlanjut.
Baca Juga: CEO Hermes Sebut Jeffrey Epstein Predator Finansial, Klaim Dirinya Jadi Target Di Amerika Utara, pertumbuhan penjualan melambat menjadi 2,8% pada kuartal tersebut, meski Unilever menyatakan tetap mencatat kenaikan pangsa pasar.
Sementara itu, penjualan di Eropa hanya naik tipis 0,1%. Kedua wilayah ini menunjukkan perlambatan dibanding kuartal III. Secara tahunan, laba operasi dasar turun 1,1% menjadi 10,1 miliar euro, relatif sejalan dengan ekspektasi pasar sebesar 10,12 miliar euro.