KONTAN.CO.ID - Salah satu unit Sinopec melepas 8,5 juta saham CATL yang tercatat di Bursa Hong Kong dengan nilai sekitar US$ 770 juta. Melansir
Reuters Rabu (22/4/2026), berdasarkan dokumen term sheet, saham tersebut dijual melalui mekanisme
accelerated bookbuild dengan harga HK$ 708 per saham, atau diskon sekitar 3,8% dari harga penutupan CATL pada Selasa.
Baca Juga: Harga Minyak Berbalik Turun Rabu (22/4) Pagi: Brent ke US$ 98,27 & WTI ke US$ 89,39 Unit Sinopec di Hong Kong juga menyepakati periode lock-up selama 90 hari untuk sisa kepemilikannya di CATL. Transaksi ini difasilitasi oleh Goldman Sachs sebagai agen penempatan tunggal. Sebanyak 8,5 juta saham yang dilepas setara dengan sekitar 5,5% dari total saham CATL yang beredar di Hong Kong. Sebelum transaksi, Sinopec (Hong Kong) tercatat memiliki sekitar 9,45% saham CATL di pasar tersebut.
Baca Juga: AS Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Kesepakatan Masih Tanda Tanya Aksi divestasi ini dilakukan setelah lonjakan kinerja saham CATL. Sejak pencatatan perdana di Hong Kong pada Mei 2025 di harga HK$ 263 per saham, harga saham CATL hampir melonjak tiga kali lipat menjadi HK$ 736 pada Selasa. Sepanjang tahun berjalan, sahamnya telah naik sekitar 46,9%, dengan kapitalisasi pasar mencapai US$ 304 miliar. CATL merupakan salah satu produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia, dengan pelanggan utama antara lain Tesla, BMW, Volkswagen, Xiaomi, dan Nio. Dalam penawaran saham perdana (IPO) di Hong Kong, CATL berhasil menghimpun dana sekitar US$ 4,6 miliar, menjadikannya salah satu IPO terbesar di dunia pada tahun tersebut.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah, Ketidakpastian AS-Iran Membayangi; Saham BHP Tahan Penurunan Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan pabrik baterai di Hungaria sebagai bagian dari ekspansi global. Pada Maret lalu, CATL juga melaporkan laba kuartal IV dan sepanjang 2025 yang melampaui ekspektasi pasar. Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa CATL tengah menjajaki aksi penggalangan dana tambahan di Hong Kong yang berpotensi mencapai US$ 5 miliar. Namun, waktu, ukuran, dan struktur transaksi tersebut masih dalam tahap kajian.