United Tractors kewalahan memenuhi pasar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan alat berat semakin banyak seirama tren kenaikan harga batubara dan proyek infrastruktur. Ini memang menjadi peluang bagi PT United Tractors Tbk, pemasok utama alat berat di Tanah Air. Namun di sisi lain, perusahaan ini menghadapi tantangan berupa pemenuhan pesanan para pelanggan agar tepat waktu.

Tantangan tersebut berlaku jamak di industri alat berat. Jumlah antara permintaan dan pasokan alat berat saat ini sedang tidak seimbang.

Padahal selain sektor pertambangan khususnya batubara, United Tractors juga harus memenuhi permintaan pelanggan dari sektor lain. "(Target kami) adalah memenuhi kebutuhan atau permintaan pelanggan secara optimal, bisa melalui penyediaan unit maupun layanan purna jual," ujar Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk kepada Kontan.co.id, Jumat (13/7).


United Tractors membagi pelanggan alat berat Komatsu dalam empat sektor. Menurut data penjualan bulanan tahun ini, sektor pertambangan mendominasi hingga lebih dari 50%.

Dominasi penjualan alat berat sektor pertambangan paling besar terjadi pada Februari yakni 63% terhadap total 351 unit. Namun, catatan total penjualan pada bulan kedua itu menjadi yang terkecil dibandingkan dengan empat bulan lain.

Kalau ditotal, dari Januari hingga Mei 2018 United Tractors melego 2.097 unit alat berat. Alat berat sektor pertambangan mencuil porsi 55%. Sebagai pembanding, pada periode yang sama tahun lalu mereka menjual 1.488 unit alat berat. Alat berat sektor pertambangan menyumbang porsi 50%.

United Tractors belum bersedia membeberkan rapor penjualan alat berat pada Bulan Juni 2018. Manajemen dari perusahaan bekode saham UNTR di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu hanya mengatakan, dominasi alat berat dari sektor pertambangan belum tergantikan. Sebab, harga batubara masih bullish.

Yang pasti, sepanjang tahun ini United Tractors menargetkan penjualan alat berat sebanyak 4.500. Itu berarti hingga Mei mereka sudah memenuhi 64,6% target.

Serapan belanja modal  

Sementara menginjak semester II, United Tractors bakal melecut semua lini bisnis. Tak cuma alat berat, perusahaan itu akan mengejar target penjualan dari bisnis penambangan batubara, kontraktor pertambangan dan industri konstruksi.

Menurut catatan pemberitaan Kontan.co.id, United Tractors mengalokasikan dana belanja modal alias capital expenditure sebesar US$ 850 juta atau setara Rp 11,46 triliun. Anggaran tersebut lebih besar dibandingkan dengan belanja modal tahun lalu yang senilai US$ 600 juta.

United Tractors mengalokasikan belanja modal untuk mengganti alat produksi pertambangan yang sudah uzur. Selain itu, mereka akan mencuil belanja modal untuk memperbaiki kantor atau bengkel alat berat dan menambah peralatan.

Menurut pengalaman United Tractors, belanja modal setahun terserap dalam porsi yang kurang lebih sama untuk periode semester I dan semester II. "Biasanya secara proporsional belanja modal terserap setengahnya, untuk nilai pastinya nanti kami rilis tanggal 26 atau 27," tutur Sara.

Mengintip keterbukaan informasi BEI, tahun ini United Tractors beberapa kali menggelar aksi korporasi yang berkaitan dengan utang dengan perusahaan afiliasi. Laporan manajemen perusahaan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 3 Juli 2018 misalnya, menyebutkan transaski pinjaman antara PT Unitra Persada Energia dengan PT Bhumi Jati Power sekitar US$ 106,08 juta. Keduanya adalah anak usaha United Tractors.

Ada pula transaksi antara United Tractors dengan PT Andalan Multi Kencana. Pada 29 Juni 2018, kedua perusahaan sepakat meneken perjanjian perubahan pinjaman, dari yang semula sebesar US$ 5 juta menjadi US$ 10 juta. Asal tahu, Andalan Multi adalah anak perusahaan yang menjual suku cadang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi