United Tractors (UNTR) Akan Bagikan Dividen Rp 1.569 Per Saham, Simak Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) akan membagikan dividen sebesar Rp 1.569 per saham atau setara dengan Rp 5,7 triliun. UNTR bakal membayarkan dividen tersebut pada 22 Mei 2024 kepada para pemegang saham yang namanya tercatat pada 7 Mei 2024.

Hal itu sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Rabu (24/4). Secara total, dari laba bersih tahun buku 2023 UNTR membagikan dividen tunai sebesar Rp 2.270 per saham atau sejumlah Rp 8,2 triliun, termasuk dividen interim Rp 701 per saham atau Rp 2,5 triliun yang telah dibayarkan pada 24 Oktober 2023.

Total dividen UNTR senilai Rp 8,2 triliun itu setara dengan 39,78% dari laba bersih yang diraih pada tahun 2023 sebesar Rp 20,61 triliun. Tingkat dividend payout ratio UNTR mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.


Sekadar mengingatkan, pada tahun lalu UNTR membagikan dividen tunai sebesar Rp 7.003 per saham atau sejumlah Rp 25,5 triliun. Total dividen UNTR itu setara dengan payout ratio 121% dari laba bersih tahun 2022 yang kala itu mencapai Rp 21 triliun.

Baca Juga: ACES Diprediksi Bakal Cetak Kinerja Positif pada 2024, Begini Rekomendasi Sahamnya

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2023 UNTR mengantongi pendapatan senilai Rp 128,58 triliun, tumbuh 4,02% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, UNTR meraih laba bersih sebesar Rp 20,61 triliun pada 2023, turun 1,85% dibandingkan keuntungan Rp 21 triliun pada 2022.

Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro mengungkapkan besaran dividen yang dibagikan UNTR telah melalui berbagai pertimbangan. Terutama untuk menyeimbangkan antara kebutuhan pendanaan belanja modal maupun kemungkinan adanya investasi baru di masa yang akan datang.

Iwan bilang, payout ratio UNTYR kembali pada level yang normal, yakni sekitar 40%. UNTR pun ingin menjaga tingkat profitabilitas saat harga komoditas mengalami normalisasi usai sebelumnya harga batubara global sempat meroket hingga level US$ 400 per ton. 

"Sejak awal tahun 2023 harga batubara sudah mencapai titik equilibrium baru, sehingga menyebabkan profitabilitas UNTR kembali ke level normal," kata Iwan dalam konferensi pers, Rabu (24/4).

Apalagi, UNTR pun sedang getol menggelar ekspansi di segmen bisnis non-batubara dengan mengakuisisi sejumlah perusahaan. Dus, Anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) memerlukan kecukupan dana yang besar.

Guna menunjang aksi ekspansi tersebut, Iwan menegaskan UNTR memiliki kesiapan dana. Sumber pendanaan itu termasuk berasal dari pihak ketiga atau pinjaman perbankan dengan fasilitas hingga sekitar US$ 2 miliar. 

Sedangkan untuk belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini, UNTR juga mengalokasikan anggaran jumbo. Iwan menyampaikan, proyeksi capex UNTR mencapai US$ 1,3 miliar - US$ 1,4 miliar. 

Capex UNTR akan dipakai untuk menunjang bisnis kontraktor pertambangan sekitar US$ 1 miliar. Kemudian US$ 100 juta untuk ekspansi di infrastruktur batubara, US$ 100 juta untuk pengembangan bisnis tambang emas, dan sekitar US$ 100 juta untuk segmen alat berat.

 
UNTR Chart by TradingView

Baca Juga: Industri Motor Listrik Masih Prospektif, Analis Jagokan Saham INDY hingga TOBA

"Kami berpedoman sebisa mungkin untuk business as usual akan dipenuhi dari internal kas, yang cukup membiayai capex. Namun untuk kebutuhan bisnis dan investasi baru, kami dibantu oleh dana dari pihak ketiga," tandas Iwan.

Rekomendasi Saham

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai meskipun menurun dibandingkan tahun lalu, tapi dividend yield UNTR di level 6,29% masih terbilang menarik. 

"Dividen itu bonus, sehingga bergantung juga dari tujuan business plan perusahaan berikutnya," kata Nico kepada Kontan.co.id, Rabu (24/4).

Secara kinerja, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer melihat potensi perlambatan kinerja UNTR pada tahun ini. Penyebabnya adalah proyeksi penurunan penjualan di segmen alat berat dan tingkat harga batubara yang masih berpotensi melandai.

Meski begitu, sentimen eksternal dan kondisi nilai tukar saat ini bisa berdampak positif pada komoditas emas. Secara jangka panjang, segmen emas bisa ikut menunjang kinerja UNTR, apalagi dengan adanya potensi pendapatan baru dari hasil ekspansi di bisnis non-batubara.

Sebagai rekomendasi, Khaer menyarankan trading buy saham UNTR dengan target harga Rp 25.927. Nico juga menilai saham UNTR menarik dikoleksi dengan orientasi target harga yang lebih jangka panjang pada level Rp 27.500. 

Adapun, harga saham UNTR mengalami pelemahan 0,40% ke level Rp 24.850 pada perdagangan Rabu (24/4). Jika diukur secara year to date, harga saham UNTR mengakumulasi kenaikan 9,83%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi